ORANG TIMUR

Wednesday, November 18, 2015

Hari itu adalah hari dimana gue merasa kepala gue kayak ada apinya, hari itu gue feels like Goku. Kejadiannya seperti ini. Tepat saat pelajaran pertama selesai, seperti biasa, gue dan beberapa teman gue bersantai dulu didalam kelas. Layaknya mahasiswa lainnya, pembicaraan yang paling hangat dibicarakan adalah tentang dosen. Ditambah lagi kalau dosen itu adalah dosen paling killer, pasti seharian perasaannya nggak enak, mungkin waktu makan siang lidahnya kegigit ampe berdarah. Ditengah-tengah obrolan, teman gue nggak sengaja mengalihkan pembicaraan, judulnya berubah menjadi Orang Timur. Awal-awal sih, gue sabar aja. Tapi, lama kelamaan dia makin menjadi-jadi, gue sebagai orang timur nggak terima men. 

"Eh, pernah nggak sih, lu pade lihat penampakan ?", ujar Raka.
"Penampakan, hari gini masih percaya aja sama mistis", ujar Alif
Karena penasaran dengan obrolan mereka, gue juga ikut nimbrung.
"Eh, ngomongin apaan sih, kayaknya gue denger ada kata-kata penampakan tadi".
"Ketinggalan zaman lu, kemana aja ?, nggak tahu tentang penampakan". Raka.
"Gue nggak kemana-mana, palingan dirumah, makan, tidur, abis itu nunggu wisuda".
"Lu dah pernah lihat orang timur dikelas sebelah nggak".
"Yoi, mukanya kayak abis kebakar tuh yah, kayak pantat panci". Alif

Seperempat jam pembicaraan, gue merasa, orang timur di diskriminasi. Gue sebagai orang timur merasa terhina. Mungkin mereka nggak sadar, orang jawa juga nggak bagus-bagus amat yah. Gue akuin sih, ceweknya cantik dan ayu. Tapi, yang bikin  gue kadang merasa nggak asik sama ceweknya adalah logatnya. Lidahnya kayak ketipung gitu, mantul-mantul. Yang penting banyak dah yang pengen gue jelasin tentang kejelekan orang jawa, tapi, gue takut gara-gara itu, perang dunia akan terjadi.

Omongan mereka pun semakin menjadi-jadi. Mungkin, hari ini akan ada pertumpahan darah nich, akan ada pembantaian masal Hitler. Karena dah bosan dengerin mereka ketawa, dan juga menghina orang timur, akhirnya, gue angkat biacara.

"Woyyy, emangnya apa yag lu banggain dari orang Jawa ?". Nunjuk Raka dan Alif. "Lidah kayak ketipung aja dibanggain".
"Tuh namanya ciri khas bro, daripada orang timur, muka item kayak pantat panci, rambut kayak Medusa (keriting, kayak mie), hidup lagi". Raka.
"Eitss, emank muka gue item men, tapi gigi gue putih, nggak kayak lu kuning kayak mentega".

Setelah perdebatan panjang, gue dah nggak bisa nahan emosi, rasanya gue akan berubah jadi Kyubi, gue pengen banget nyakar muka si Raka. Alif pun datang membawa bendera perdamaian, gue ngelihat Alif kayak bersayap, abis tuh bawa bendera berwarna biru, dia kayak malaikat men, yang mau mendamaikan gue sama Raka (ekspetasi yang sangat terlalu, realitanya Alif tuh nggak kayak gitu-gitu juga sih). 

Setelah lama berdebat, gue dan Raka pun memutuskan untuk menyudahi perdebatan. Bukan karena gue dah merasa puas, tapi, karena gue sadar, orang timur emang jelek sich !, dan Raka mungkin ngerasain apa yang gue rasain, dia juga mungkin merasa bahwa dirinya jelek. Kami berdua merasa sama-sama jelek dan memiliki kekurangan masing-masing. Perdebatan pun berakhir dikantin. Gue, Raka dan Alif membeli Sprite untuk mendinginkan suasana, kali aja setelah minum, bisa kayak yang di iklan-iklan, loncat kelapangan basket jadi kolam.




You Might Also Like

0 komentar

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe