Hai, apa kabar? Long time no see!
Bismillah......
Sudahkah kita bersyukur hari ini? Kalau belum, berhenti sejenak lalu bersyukur. Setidaknya, kita masih diberi nikmat sehat. Ketahuilah tanpa Allah, kita takkan pernah sampai sejauh ini. Jangan lupa bersyukur.
Kali ini mari berbicara tentang sombong. Dalam KBBI sombong artinya menghargai diri secara berlebihan; congkak; pongah. Tulisan ini sebagai bentuk teguran untuk diri sendiri sekaligus reminder. Karena terkadang kita terlalu sibuk menghakimi orang lain sampai lupa bahwa diri sendiri bertabur dosa; lupa untuk muhasabah diri. Sebagai manusia kita harus insyaf akan pertanyaan darimana dan akan kemana.
Kita tentu sudah tahu dan sadar dari mana kita berasal. Makhluk yang tercipta dari tanah; terbentuk dari proses biologis setelah sembilan bulan lamanya berlomba dengan miliaran sel untuk berhasil masuk ke dalam sel telur. Ternyata se-kompleks itu proses penciptaan manusia. Lalu apa hubungannya dengan sombong? Begini, mungkin, salah satu hikmah penciptaan manusia dari tanah dan 'cairan najis' agar ia selalu ingat dan insyaf bahwa semenjak lahirnya ia tetaplah 'terinjak', 'dibawah' dan bukanlah apa-apa. Sebagai tanah yang diberi nyawa, tidak sepantasnya kita meninggi layaknya langit. Dengan artian, agar kita selalu merendah setinggi apapun status sosial kita saat ini. Bahkan 'takwa' yang merupakan gelar mulia dihadapan Allah saja tidak patut untuk disombongkan.
Lalu, akan kemana kita? Jawaban dari pertanyaan ini bukanlah 'terserah' layaknya para kaum hawa. Siapapun kita pasti akan mati. Tak ada yang luput, hatta mereka yang bersembunyi diatas menara tinggi pun akan bertemu dengan ajalnya. Setelah itu hanya ada dua pilihan surga atau neraka. Tidak ada pilihan ketiga. Jika kesombongan bisa memasukkan kita kedalam surga sudah barang pasti Allah akan memerintahkan hamba-Nya untuk menyombongkan diri. Lihatlah bagaimana Fir'aun ditenggelamkan ke dasar lautan karena kesombongannya. Juga kaum Nabi Nuh a.s yang ditelan air bah. Ketahuilah, sombong bukan milik manusia. Seharusnya, semakin tinggi pangkat/gelar seseorang semakin tinggi pula keinsyafannya. Ia akan menggunakan 'kekuatannya' untuk membantu orang banyak. Bukan malah memperkaya diri sendiri seolah-olah saldo rekeningnya yang triliunan itu bisa menyelamatkannya dari pertanyaan malaikat. Tidak ada istilah 'orang dalam' di alam kubur.
Semoga kita semua tetap sadar dengan darimana dan akan kemana nantinya.