#34 (CERITA TUA)
Monday, October 09, 2017
Kapal membawa langkah kakiku lebih jauh lagi. Melewati lautan bebas, meninggalkan rumah tempatku bernaung, juga kenangan. Satu persatu langkah kakiku menuruni tangga kayu dan berusaha beradaptasi dengan udara dan suasana baru disekeliling. Sangat berbeda sekali, tempat ku berpijak kala itu memberikanku pengalaman baru. Banyak yang kupelajari, dan dari orang-orang sekitar aku sadar, bahwa ilmu tidak hanya kita dapatkan didalam ruangan kelas. Ilmu tidak harus tentang makalah berisikan beribu kata dan halaman. Ilmu adalah tentang pengalaman, semakin banyak peristiwa yang dirasakan, maka akan semakin banyak ilmu.
Kakiku kembali menaiki satu persatu tangga kapal kayu. Menatap sekeliling, ruang kelas yang penuh dengan realitas. Tak ada teori, semuanya dipraktekkan secara langsung. Kapal mulai berbunyi dan sedikit demi sedikit meninggalkan pelabuhan. Dan inilah momen dimana aku bertemu dengan seorang guru kehidupan. Tepat pada saat kapal sudah berlayar kauh. Kala itu suasan laut tenang. Ditelingaku terpasang headset. Kira-kira waktu menunjukkan pukul 10 pagi, sambil menatap lautan, kunikmati satu demi satu susunan lagu dalam-dalam. Sampai saatnya orang yamg kusebut sebagai guru itu datang. Panas matahari terik, ia sedang berbincang dengan seorang tua, umurnya jauh berbeda. Lawan bicaranya terlihat sedang mengeluh akan pelayanan rumah sakit yang kurang memuaskan, begitupun dirinya. Tanpa ragu, aku mendekat. Mencoba bergabung dan masuk dalam pecakapan yang notabenenya tergolong dewasa. Kuposisikan diri sebagai seorang dewasa, meskipun pada hakikatnya masih jauh dari kata dewasa.
Anak buah kapal lalu-lalang memberikan kotak nasi. Kami bertiga yang sedang dudukpun dapat jatah makan. Apa boleh buat, percakapan ditunda sejenak, selamat makan. Tidak dengan guru itu, ia tidak makan. Sekilas kulihat dia hanya meminta satu gelas air mineral lalu izin pamit. Kembali ke tempat tidurnya. Setelah beberapa lama, aku penasaran dan mulai mencarinya, hingga akhirnya kami bertemu disebelah belakang kapal. Saling tatap dan aku memperkenalkan diri, menceritakan sedikit pengalaman demi mencairkan suasana. Ia mengangguk, kurasa ia bisa menerima seluruh basa-basi itu. Kini gilirannya, ia menceritakan masa kecilnya yang kelam. Hidup tanpa mengenyam pendidikan disekolah menjadikan dirinya seorang buta huruf. Alhasil, yang bisa ia lakukan hanyalah bekerja dikapal sebagai koki. Tiga bersaudara, dan semunya buta huruf. Bukan itu yang menjadi pertimbanganku, tapi pengalaman menelusuri lautan bebas yang membuatku terkesan. Menjadi koki kecil tidaklah mudah, ocehan dan hinaan merupakan makanan sehari-hari. Hingga tiba saatnya ia bosan dan melamar pekerjaan disalah satu rumah makan, kepala kokinya adalah mantan angkatan laut, badannya besar. Suatu hari mereka berdua terlibat perkelahian hingga akhirnya sang ketua mati tersungkur. Seluruh penghuni dapur kaget, bagaimana mungkin si kecil itu mengalahkan lawan yang besar. "Sudah saya katakan dari awal, meskipun saya kecil, saya tidak takut pada siapapun", jelasnya setelah menceritakan kejahatannya itu. Bukan perilaku pembunuhannya, sikapnya yang kukagumi. Tak takut.
Setelah itu ia kembali menceritakan petualangannya dalam berlayar. Mengarungi lautan bebas dengan kapal layar, sangat luar biasa. Berpindah dari satu pulau kepulau lain hingga menapakkan kaki di negeri tetangga sana. Semuanya ia lakukan dengan bantuan kapal layar. "Bila angin bagus,.kami sangat senang, perjalanan lancar". Ku terdiam, mencoba menempatkan diri pada situasi yang dialaminya waktu itu. Tenang dalam situasi yang tidak menentu, terombang-ambing dilautan. Andai saja pada zamannya kapal dengan teknologi mesin bisa dibelinya, aku yakin seluruh dunia ini sudah ia pijak. Semuanya ia ceritakan, hingga tiba saatnya ia beranjak dari tempat duduknya. Semua pertanyaanku dijawabnya tegas tanpa kurang. Tinggal satu, bagaimana kisah cintanya dahulu ?. Tapi mungkin itu terlalu berlebihan, dengan petualangan besar seperti itu mana mungkin masih ada terlintas cinta dikepalanya. Rindu pasti ada, tapi tidak diungkapkan selebay zaman sekarang. Ia mungkin pintar memendamnya. Pertemuanku demgannya berakhir setelah kapal telah sampai. Lambaian tangan terakhir ia sampaikan di pelabuhan. Kubalas dengam penuh semangat. "Sampai jumpa guru, terima kasih atas seluruh ceritamu. Suatu saat nanti, biarkan waktu mempertemukan kita lagi". Salam petualang, kakek !.

0 komentar