Untuk Kita

Sunday, June 28, 2020

Tiap kali terkena musibah, hal pertama yang harus diingat adalah diri sendiri; perilaku kita. Semisal ketika kehilangan sendal di tempat umum. Coba telaah lagi yang telah lalu, mungkin saja ada barang orang lain yang pernah kita ambil. Dengan menyalahkan dan mengintrospeksi diri sendiri terlebih dahulu, setidaknya menjauhkan kita dari menghakimi orang lain. Karena seringkali kita terlalu sensitif dengan kesalahan orang lain dan enggan menelaah kesalahan sendiri. Tapi, bukan berarti dengan banyaknya introspeksi diri menjadikan kita tenggelam dalam masalah terus menerus. Ada fase dimana memaafkan timbul seketika setelah menyalahkan. 

Ada banyak hal yang perlu dibicarakan sobat. Terutama tentang kecemasan akan hari esok. Akan jadi apa dan pertanyaan tentang hidup yang begitu-begitu saja. Rasa cemas adalah rasa pahit dalam kopi yang belum bisa dinikmati. Mungkin juga titik hitam dalam luasnya area putih. Berbagai rancangan bisnis dan rencana indah akan masa depan tertata rapi bersama segelas kopi hitam tanpa gula. Tapi, layaknya sebuah wadah hitam. Seringkali kita hanya berfokus pada satu titik putih. Semisal, timbulnya rasa iri dibarengi putus asa dikarenakan melihat orang lain lebih sukses. Sedangkan enggan melihat apa saja usaha dan kerja keras yang telah dikeluarkan. Contoh lain, menganggap hidup orang lain itu lebih nikmat dibandingkan dengan apa yang kita jalani saat ini. "Wah, dia enak sekali. Kerjanya sedikit tapi untungnya banyak", dan lain-lain. Mungkin, jika kita menghabiskan waktu untuk terus membanding-bandingkan, bisa jadi hidup ini takkan pernah bisa dinikmati.

Dunia ini tempat capek. Jadi tak apa-apa capek sedikit nanti pulang kita istirahat. Wajari dan pelajari. Wajari bahwa keringat dan air mata akan selalu ada hingga akhir hayat. Lalu pelajari bahwa dibalik usaha keras ada hasil yang tak pernah berbohong. Sampai kapan? Sampai Sang Khalik berkata "waktunya pulang". Bisa dikatakan itulah bel tanda waktu istirahat. Harapan kita semua sama. Semoga nantinya hanya senyuman yang menemani dan dijauhkan dari tangisan akan pedihnya siksaan. Sobat, kita punya porsi capek masing-masing. Maka berhentilah membayangkan hidup kita akan lebih indah bila berlandaskan hidup orang lain. Kita punya era masing-masing maka bersabarlah dan teruslah berusaha. 

Untuk kamu yang hanya bisa ditatap dan belum juga menetap. Untuk kamu yang sedang putus asa karena belum juga meraih asa. Tenang, kalau bukan besok, berarti hari-hari selanjutnya.

Tertanda
Hamba yang gitu-gitu aja :)



You Might Also Like

0 komentar

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe