Curcol
Wednesday, February 24, 2021Sebagai manusia yang takkan pernah luput dari salah. Sudah seharusnya bagi kita untuk selalu introspeksi tentang semua kekhilafan dan kesalahan. Memangnya siapa yang tidak pernah bersalah? Memaafkan adalah tujuan akhir yang diawali dengan kata muhasabah. Cara mengekspresikan diri ketika dilanda salah pun bermacam-macam. Ada orang yang lebih memilih diam, menyembunyikan kesalahan, muhasabah personal; hanya dia dan Tuhan. Setelah itu dituliskannya di buku catatan agar kelak ketika terulang lagi, ia bisa kembali membaca untuk me-refresh diri. Ada juga tipe orang yang langsung menghubungi manusia lain setelah berkomunikasi dengan Tuhannya. Dengan tujuan bercerita panjang lebar dan menerima solusi yang solutif. Yang manapun itu, asal tetap dalam koridor kebaikan dan kewajaran yah sah-sah saja.
Lakukanlah sesuatu asal tahu batas. Mungkin seperti itu rumusnya. Di zaman modern ini ada hal-hal yang tidak bisa dipungkiri dominasinya. Salah satunya adalah teknologi, lebih spesifik lagi media sosial. Kita bebas berekpresi sebebas mungkin. Walakin, harus sadar bahwa bebas juga punya batas. Meskipun, mungkin berbicara tentang batasan di era yang serba bebas ini terkesan terlalu formal "Jangan kaku gitu dong, bro/sis!" Sadar diri bisa menjadi bahasa yang tepat untuk digunakan, maybe!? Kembali lagi ke media sosial dengan segala dominasinya; juga curhat colongan kita. Kita cukupkan hegemoni media sosial sampai promosi barang saja, titik, hanya itu, titik itu. Tidak usah merambat pada promosi diri, pamer barang mahal, keceriaan, kesedihan; yang tidak ada gunanya untuk orang lain dan tidak menghasilkan sepeser pun. Ayolah kawan!
Maksudmu apa dengan membagikan kesedihan di media sosial? Mencari solusi? Mencari perhatian? Kau kira viewer story-mu itu care? Mereka hanya sedang bosan saja dan mencari alternatif untuk menghilangkan kebosanan. Adapun ada yang bertanya, bisa jadi mereka hanya sedang tidak ada kerjaan dan mencari topik untuk mengisi waktu luang. Biarkan curhat colongan menjadi ajang komunikasi antara Tuhan dan makhlukNya saja, lalu berakhir pada orang-orang terdekat. Media sosial tidak usah ikut campur! Bila mungkin kesedihan bisa kita masukkan dalam kategori aib, lalu mengapa dengan mudahnya kita mengumbar aib yang seharusnya kita sembunyikan? Jika memang segala kegalauan, kegelisahan, dan kesedihanmu tetap ingin kau bagikan. Doa terbaik untukmu, semoga kelak kau jadi orang terkenal :)
Hidup tidak selalunya tentang kopi. Eh, apaan sih anak indie, sorry! Begini kawan, sewajarnya saja dan pastikan itu memang wajar dan bisa diwajari.
0 komentar