Tolong Izinkan Ultraman Menjadi Monster

Wednesday, June 05, 2024


Hai, balik lagi. Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah.

Kali ini saya akan membahas tentang sebuah film yang kiranya cukup nyentrik jika dilihat dari judulnya “Tuhan Izinkan Aku Berdosa”, yang mana diangkat dari novel “Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur” karya Muhiddin M. Dahlan. Secara garis besar menceritakan tentang seorang gadis desa yang taat beragama juga kritis dalam melawan kemunafikan. Ia bertemu dengan banyak hal yang sangat-sangat bertentangan dengan prinsipnya. Singkat cerita ia muak dengan apa yang dialaminya hingga akhirnya ia menempuh jalannya sendiri untuk menumpas kejahatan dan kemunafikan. Alih-alih mempertanyakan kasih sayang dan rahmat Tuhan, jatuhnya si gadis malah menentang dan melawan Tuhan.

Tulisan ini merupakan pesan dan kesan semata. Dengan latar belakang pengajian, gadis berhijab, organisasi islam; menurut penulis film ini mencoba untuk menjelaskan/menyinggung muslim bukan Islam. Dalam hal ini adalah muslim yang ditemui oleh pengarang cerita dan sang sutradara. Lebih lagi, muslim dan Islam yang ada dalam benak mereka. Karena di dalam film ada banyak hal yang sangat berbeda dan bertentangan dengan ajaran Islam. Seperti konsep ‘jihad’ yang disalahartikan, interaksi berlebihan antara laki-laki dan perempuan, sampai konsep menyeru pada kebaikan yang implementasinya salah. Seolah-olah pengarang ingin berkata “Enggak usah sok suci lah, kalian itu pendosa”.

Adapun jihad sendiri tidak selalunya dengan senjata. Bahkan menuntut ilmu itu sendiri termasuk jihad di jalan Allah dan lebih utama apabila dibarengi dengan niat yang baik. Dalam hal berinteraksi dengan lawan jenis pun ada rambu-rambu yang tidak boleh dilanggar dan apabila tidak ada kepentingan urgent lebih baik tidak sama sekali. Yang perlu digaris bawahi adalah seorang ultraman sekalipun tidak perlu menjadi monster untuk membongkar dan memberitahu masyarakat tentang seberapa jahatnya mereka. Membongkar kemunafikan pun tidak harus menjadi seorang munafik dulu. Kalau begitu sama saja 1+1=2, niatnya ingin menyeru pada kebaikan tapi malah menambah keburukan. Apa iya jadi PSK (baca: pelacur) adalah satu-satunya cara? Kalau semua orang berpikir begitu, maka kedepannya akan ada banyak orang yang ingin masuk parlemen dengan tujuan memberantas korupsi. Apakah begitu? Kayaknya sang pengarang cerita dan sutradara ingin menampilkan sosok Robin Hood di era modern untuk para penikmat karyanya. Apapun itu, kebaikan dan keburukan tidak akan pernah menyatu.

Dalam hal ini penulis sendiri bisa mengambil beberapa pelajaran. Bahwa perlunya mengambil ilmu agama dari orang yang benar-benar ahli, tidak asal ambil hanya karena tergiur dengan hal-hal dzohiriah seperti pakaian, cara ngomong, dll. Selain itu perlunya mencari lingkungan pergaulan yang baik. Karena seseorang tergantung pada agamanya saudaranya, tergantung dengan siapa ia bergaul. Film ini juga merupakan renungan agar kita selalu mensucikan hati dari hal-hal buruk dan berusaha memperbaiki diri. Karya dibalas karya. Kita masih menunggu kiprah para pengarang dan sutradara muslim untuk membuat film yang lebih baik dan bisa menampilkan nilai-nilai Islam dengan lebih bijak.

Terima Kasih. 

You Might Also Like

0 komentar

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe