MABA KAMPUS

Wednesday, November 04, 2015


“ Kalian itu masih MABA, jangan macam-macam dikampus ini “. Kata-kata yang selalu keluar ketika kita baru menginjak bangku perkuliahan. Kesan  pertama yang  muncul saat mendengar kalimat tersebut adalah kesan negative, yang selalu terngiang dikepala. Mahasiswa Baru (MABA), orang-orang yang selalu teraniaya dan menjadi bulan-bulanan di kampus. Hal inilah yang ku rasakan sebelum measuk ke kampus misterius itu. Setelah berjalan menyusuri kota, kampus pun kutemukan, dan itbalah saatnya untuk memulai kehidupan baru yang semakin menantang, yang pastinya dalm lingkup mahasiswa. Hari pertama, aku langsung pergi ke kampus dan mengambil formulir pendaftaran mahasiswa baru. Sangat mengerikan rasanya, kurasakan hawa jahat yang keluar dari panitia-panitia OSPEK kampus. Hari pertama masuk kampus, aku angsung bertemu dengan wajah-wajah algojo yang sap mengeksekusi kami para mahasiswa baru. Rasanya keinginanku untuk kuliah luntur saat ku mencoba mengambil formulir pendaftaran kampus. “ Woi MABA !, siap-siap, lu nggak akan betah dikampus “. Mendengar perkataan mereka kakiku terasa sangat lemah,  seakan tak bisa digunakan untuk berjalan lagi, rasanya ku telah melihat malaikat maut datang menghampiri. Hari pertama pun akhirnya berlalu, dan formulir pendaftaran pun telah kuselesaikan tepat waktu, tinggal menunggu waktu ujian masuk.

Inilah saatnya menuju ke tugas kedua, yaitu mencari tempat tiggal. Mencari tempat tinggal atau biasa kita sebut dengan “KOS” di pulau jawa ini tidaklah semudah di Indonesia timur. Karena populasi penduduk yang kian meledak setiap tahunnya, sangat sulit untuk mencari kos yang masih kosong. Setelah lama mencari, akhirnya kos pun ditemukan dengan tempat yang strategis dan juga bayaran yang pas dengan situasi dan kondisi kantong saat itu. Pekerjaan kedua pun telah selesai, sekarang tinggal menunggu waku ujian masuk kampus dan menunggu keputusan, lulus atau tidak. Seminggu pun telah berjalan dan tibalah waktunya ujian masuk kampus. Kuberjaln menuju kampus setelah shubuh tepat. Karena lokasi kampus yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal, dan lumayan, sisa waktunya bias dipakai untuk belajar di kampus. Bel tanda ujian dimulai pun telah bordering, tanda bahwa inilah saat yang ditunggu-tunggu, keadaan yang akan menentukan kita lulus atau tidak. Setelah membaca doa, soal ujian pun kuterima dan alhasil, soal yang keluar sesuai dengan apa yang kupelajari malam hari. Pena pun serasa berjalan sendiri mengikuti perintah mata yang melihat ke soal. Inilah yang disebut keberuntungan. Banyak orang-orang pintar di dunia ini yang kalah dengan orang yang beruntung. Keberuntungan tersebut bisa didapatkan dengan hubbungan yang baik antara kita dengan tuhan. Waktu ujian pun telah berakhir, dan aku keluar dari ruang ujian dengan perasaan yang sangat senang. Karena belum memiliki teman, aku langsung pulang ke kos untuk beristrirahat setelah kurang lebih dua jam pikiran berputar kencang, beradu dengan kerasnya tekanan dari soal yang diberikan.

Jikalau kita bercerita tentang kos atau kamar, yang namanya kamar seorang lelaki sangat bisa ditebak. Kamar yang pastinya bernatakan dan banyak poster dimana-mana. Belum lagi kasur dengan seprai yang terpisah, bagaikan anak yang terpisah dari ibunya. Baunya kamar laki-laki pun bisa ditebak, mengalahkan bau parfum termahal di dunia. Yang penting, akan jauh bedan apabila dibandingkan dengan kamar perempuan yang tertata rapi dan juga beraroma harum. Setelah sekian lama manuggu, akhirnya pengumuman kelulusan pun telah diterbitkan dengan hasil aku lulus di Fakultas dan PRODI yang ku inginkan. Aku lulus di fakultas FISIP, Prodi hubungan internasional. Perasaan pun bukannya semakin lega, melinkan semakin  tegang, disebabkan hari yang mengerikan pun akan segera tiba. Hari dimana kami mahasiswa baru akan diospek oleh kakak kelas kami. Hari itulah ajang bagi para kakak kelas untuk mengeluarkan taring mereka, dan juga megeluarkan aura-aura jahat yang ada dalam diri mereka. Sekarang tinggal menunggu waktu, kapan hari yang mengerikan itu akan tiba.

Hari yang ditunggu-tunggu pun telah tiba, terlihat dari kejauhan para mahasiswa baru berbondong-bondong masuk ke kampus dengan menggunakan kostum maisng-masing. Para panitia pun sudah bersiap-siap untuk memberikan instruksi kepada kami. Setelah masuk panitia langsung mengantar mahasiswa baru kedepan gedung utama kampus untuk mengikuti upacara pembukaan ospek. Yang mengambil alih pembukaan tersebut adalah rektor universitas. Disela-sela pembicaraan, rektor mengatakan “ Ospek tahun ini harus berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tak ada lagi pembodohan  dalam ospek ini, tak ada lagi penyiksaan. Kita harus memulai dan merintis suatu system yang baru “. Mendengar perkataaan pak rektor, aku langsung mengingat hal-hal yang terjadi di televisi baru-baru ini. Karena ospek, banyak orang yang meninggal, hal-hal yang terkandung dalam ospek, tak ada yang mengandung unsur pendidikan sedikit pun. Perkataan pak rektor  juga menambah semangat para mahsiswa baru untuk mengikuti kegiatan ospek yang akan diadakan dalam kurun waktu seminggu. Di kampus ini, kutanamkan tekad, disini juga kugantungkan cita-cita, dan disinilah ku pijakkan langkah pertama menuju cahaya terang. Dengan notabene kampus yang cukup terkenal, kami mahasiswa tidak boleh menyerah, kami harus terus maju. “ Memang kampus kita ini masih terbilang kecil, tapi, cita-cita kita sangatlah besar untuk memajukan kampus ini “. Ujar pak rektor, seraya menutup acara pembukaan ospek tersebut, dan juga pertanda ospek dimulai.





You Might Also Like

0 komentar

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe