#13 (MELIRIK STANDARISASI)

Saturday, March 04, 2017


Mari berbicara tentang dakwah !. Hari-hari ini marak sekali terlihat peristiwa dan terdengar kabar-kabar, mulai dari yang jelas-jelas benar, hingga yang benar-benar tak benar. Belum lagi masalah standarisasi yang merupakan lawan berat bagi mereka para pendakwah, untuk berdakwah hari ini diperlukan stnadarisasi dan izin dari pihak berwajib. Semakin maju zaman, semakin besar dan susah juga tantangan untuk berdakwah. Mari kita pahami bersama bahwa ini bukanlah hal remeh, apa yang terjadi apabila mereka yang memenuhi standar adalah kerabat dekat dari mereka pemberi standar yang notabenenya juga tak memenuhi standar ?. Tak bisa dibayangkan apabila standarisasi nantinya diikuti oleh para pendakwah yang tak benar.  Sampai kapan telinga akan dikotori oleh kebohongan ?. Mari berpikir dengan cermat dan jernih !.

Tak ada salahnya sebenarnya jika kita lihat usul dari para petinggi. Memang perlu dilakukan standarisasi bagi pendakwah agar hasil yang diinginkan tercapai dan kabar berita yang kita terima pun jelas adanya. Tapi, sepertinya dibalik standarisasi ada hal buruk yang telah dipersiapkan. Lantas, mengapa tidak dari dulu dilakukan ?. Mengapa saat Negara sedang gencar-gencarnya menghadapi masalah penistaan agama baru dikeluarkan kebijakan ?. Masih berkesan ambigu, kebijakan yang baik tapi sepertinya bersifat menjebak, tak ada yang tahu apabila suatu hari kebijakan inilah yang akan membebaskan para pemikir liberal untuk berdakwah, berlalu-lalang kesana kemari. Mari berpikir dengan cermat dan jernih !.


Tak ada yang tahu keadaan dunia saat ini, semakin maju atau mundurkah ?. Jikalau kemajuan hanya diukur dengan perkembangan teknologi yang pesat hingga akses kemanapun bisa dilakukan dengan sekali pencet,  juga otot yang tidak lagi aktif digunakan untuk mengangkat karena segalanya telah dikerjakan oleh robot. Maka, sebenarnya kita sedang dalam kehancuran. Tak perlu lah teknologi, cukup pola pikir yang maju, yang dapat menghasilkan ide-ide dan gagasan baru. Juga orang-orang yang jujur perkataannya, sopan perangainya, dan baik agamanya. Manusia diambang kehancuran apabila masih saja diperbudak oleh ciptaannya sendiri.  Jika robot masih saja diciptakan tanpa ada kontrol, bisa diramalkan suatu saat nanti manusia akan diperbudak oleh robot. Bukti yang lebih kongkrit, uang !. Manusia menciptakan uang tanpa kontrol, permintaan yang kian tahun meningkat merupakan bukti bahwa tingkat kehedonisan semakin meningkat. Tak perlu ramalan lagi, hari ini pun banyak terlihat manusia-manusia yang diperbudak oleh uang. Mungkinkan standarisasi mempunyai korelasi dengan uang ?, mudah-mudahan saja tidak.  Mari berpikir dengan cermat dan jernih !.

Standarisasi merupakan musuh baru para pendakwah yang benar-benar ingin berdakwah. Nantinya bisa dibayangkan tema dan isi ceramah ditentukan oleh para pemegang standar. Yang perlu dipertanyakan, apakah para pemegang standar benar-benar memenuhi standar ?, ataukan skill mereka rata-rata dibawah standar ?, naudzubillah. Seakan standarisasi menjadi tembok pemisah antara kepentingan agama dan kepentingan dunia. Dengan begitu, sekularisme pun bisa berlarian tanpa kecurigaan sedikitpun. "Jangan berbicara politik saat ceramah", mungkin inilah contoh yang akan terlihat kemudian hari, kata-kata tersebut akan terpampang jelas dibalik mimbar. "Jangan berbicara agama saat berpolitik", dan sebaliknya demikianlah kira-kira yang akan terlihat nantinya. Mari berpikir dengan cermat dan jernih !.


Sebagai seorang muslim sudah barang tentu dan wajib bagi kita untuk menyatukan antara unsur duniawi dan ukhrowi, tak ada dikotomi dalam Islam. Jika nantinya ramalan diatas benar adanya dan hanya akan menghasilkan output yang tidak baik, ada baiknya untuk melakukan standarisasi diri bagi para pemegang standar. Pastikan bahwa para pemegang standar benar-benar bisa dipercaya, atau mungkin berikan semuanya pada Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai pemegang standar.  Kaum muslimin akan senang dan percaya serratus persen dengan hal tersebut. Hanya usulan saja, untuk para pemangku kebijakan. Apakah tidak lebih baik untuk melakukan standarisasi pada kepala daerah terlebih dahulu ?, agar kasus penistaan agama tidak terjadi lagi. Kepala daerah yang kualitasnya dibawah standar tidak boleh mencalonkan dirinya. Untuk apa mencalonkan diri apabila omongannya saja tidak standar. Hanya sekedar usul, toh standarisasi juga baru muncul saat banyak tuntutan pada sang penista agama. Mari berpikir dengan cermat dan jernih !.

SEKEDAR ASPIRASI JUGA PERKIRAAN !

You Might Also Like

0 komentar

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe