#19 (KARTINI)
Friday, April 21, 2017Kemedekaan untuk semua, bukan sepihak. Tiga ratus lima puluh tahun terjajah, pejuang mati dimana-mana. Berteriak keras berikan perlawanan. Hanya untuk satu tujuan, bebas. Apa itu hidup bila terkekang, terjajah oleh pihak lain. Mereka datang dengan sejuta pasukan, seharusnya, kita lawan dengan bermilyar-milyar semangat yang berkobar. Pejuang tak pernah takut mati, karena mereka tahu. Kematian adalah jalan menuju keabadian.
Tak ada lagi penjajahan, katanya. Buktinya, masih ada saja yang berdemo meminta kebebasan. Tak ada lagi perbudakan, katanya. Buktinya, masih ada saja buruh tak diupah. Miris rasanya melihat penjajahan dan perbudakan. Dikemas sedemikian rupa agar terlihat lebih modern. Yang dijajah bukan jasmani, tapi rohaninya. Yang diperbudak bukan jasadnya, tapi otaknya. Apakah kita sudah merdeka ?. Jawaban yang tepat bukan kita, tapi mereka para penjajah.
Tepat hari ini, sosok perempuan meminta kesamaan hak. Emansipasi, agar pendidikan tak hanya untuk kaum lelaki. Tepat hari ini, sosok perempuan menyuarakan haknya. Agar kaum wanita tak hanya untuk diperbudak. Berhasil dan hari ini juga sudah terlihat jelas. Wanita bukan lagi makhluk penghuni kasur sumur, dan dapur. Di kursi-kursi parlemen, didalam gedung-gedung tinggi lainnya, kaum hawa sudah merdeka dengan segala fasilitasnya.
Terasa sia-sia perjuangan seorang kartini. Untuk apa dahulu ia berjuang, jika hari ini kaum wanita malah menjelekkan diri. Meskipun tidak semuanya, memang, tulisan ini untuk mereka yang belum merasa berharga. Hanya karena uang, harga diri direnggut. Hanya karena popularitas, kehormatan diretas. Kasihan saja, apa kata seorang Kartini bila tahu, saat ini banyak wanita yang tak sesuai dengan apa yang ia inginkan ?. "Untuk apa aku berjuang, bila akhirnya seperti ini", kata Kartini (sepertinya).
0 komentar