#20 (BURUH)
Sunday, April 30, 2017
Silahkan suruh, silahkan perintah. Asal satu; berikan hak mereka. Kita semua sama, tak ada makanan tanpa uang. BagaimanA kau tega menyiksa manusia, tak ada imbalan setelah pekerjaan. Bagaimana kau tega menghewankan manusia, manusiakan mereka. Jika mau, coba rasakan beban mereka. Coba saja bertukar tempat. Apakah kau sanggup ?, pikirku tidak. Tulang belakang mu belum cukup kuat untuk memikul sekarung beras, semen. Belum lagi ditambah satu ton bahan makanan. Jika tak ada para pengangkut, tak akan ada bahan makanan yang tersebar.
Setidaknya ucapkan selamat, hari libur tak akan berguna. Pikir mereka hanya imbalan. Wajari saja, mereka bekerja, maka berilah. Tak sama dengan mereka, para koruptor. Ingin hidup tentram tapi malas bekerja. Miris rasanya melihat koruptor bebas lalu lalang, tanpa dosa. Tapi di pabrik dan industri, para buruh meminum keringat, kerja tanpa kenal lelah. Hanya untuk sesuap nasi saja. Sedang koruptor, bukan sesuap. Sekarung beras pun belum cukup untuk memenuhi perut gendutnya. Pikirkan lagi, siapa sebenarnya yang harus disiksa.
Jika hanya demi untung banyak kau siksa mereka, apa beda dirimu dengan para pencuri uang negara. Iya, berbeda background. Tapi tetap berlabel sama, pemakan hak orang lain. Jangan makan hak orang, pikirkan lagi. Apakah hakmu mau dimakan juga ?, renungkan lagi. Ini bukanlah perkara kecil. Kalau belum bisa beri imbalan uang, ajarkan saja kebaikan. Sudah cukup rasa. Jangan pengaruhi mereka dengan pikiran jahat, kau suruh mereka berdemo. Padahal di baik itu, kau sibuk tertawa di balik meja.
Katanya, seseorang sudah menyusun rencana. Para buruh akan dipanas-panasi, lebih tepatnya dicuci otaknya. Imbalan akan dinaikkan asalkan mau berdemo. protes kebijakan pemerintah. Mudah-mudahan saja kabar burung, hoax. Katanya, seseorang sudah menyusun rencana. Nantinya para buruh akan dibodohi. Setelah berdemo, para durno akan lari entah kemana. Memakan uang hasil keringat mereka. "Tak peduli buruh mati kelaparan, asal hidup berhabur kekayaan" (sepertinya seperti itu). Anggap saja ini kabar burung, yang tidak tahu kapan akan menjadi kabar umum.

0 komentar