#22 (DESA)

Friday, May 26, 2017

Beda sekali ternyata, pagi hari masyarakat desa bergegas mencari rumput. Mesin motor berbunyi, asap mengepul hitungan detik motor melesat jauh. Udara dingin bukan halangan sebenarnya, karena niat memang lurus. Darimana beras, pakaian, dan kebutuhan hidup lainnya kalau bukan bukan dari hasil jual rumput. Kita semua hidup dizaman modern, tak ada yang gratis sedikitpun. Bahkan kejujuran hari ini bisa terbeli. Sudah banyak contoh, biarkan mereka sadar sendiri. Udara pagi menyengat sangat, jaket tebal membungkus tubuh seorang tua berjalan santai dengan arit tajamnya. Jangan heran jika nantinya ia membawa pulang setumpuk rumput, dipikul dipundaknya.

Satu sampai lima kilo meter lebih ditempuh. Bukan hanya keluarga yang akan kelaparan, ternaknya pun demikian. Filosofi "kerja keras" adalah pedoman mereka, para penduduk desa. Sapi perah bersuara tanda ia kelaparan. Bagaimana lagi, rumputnya belum datang. Jadi mugkin ia harus bersabar untuk menunggu, sebagai gantinya beberapa galon air diminum sebagai penunda lapar. Wajar saja, rumput yang tumbuh di dekat desa sudah mulai mengurang, tersisa rumput-rumput yang tumbuh di atas gunung. Jaraknya tak dekat, yang penting cukup untuk menghabiskan tenaga seorang pekerja. Tak ada yang baik-baik saja, khawatir akan kelaparan pasti terngiang di pikiranna, bagaimana lagi; semua itu kewajiban.


Untuk sayur dan bahan pokok, tak ada yang kurang, semuanya terpenuhi. Bahkan mungkin mereka sudah bosan mengurusi hal yang itu-itu saja. Rumput, Sapi, dan Keluarga. Masyarakat biasanya berkumpul malam hari, karena pagi dan siang terpakai untuk mengais nafkah. Si guru harus mengajar, Si gembala harus mengurusi sapi-sapinya, dan Si kaya harus ayomi Si miskin, selalu begitu setiap harinya. Dingin memang sangat menyengat, udara malam memang tak biasa. Satu persatu muncul lambaikan tangan, ditemani secangkir kopi; perbincangan pun dimulai. Entah hingga pukul berapa selesainya.

Biarkan desa dengan segala keunikannya, ia sudah cukup tak perlu diubah. Biarkan penduduknya dengan segala keramahannya, mereka sudah baik tak perlu diubah. Untuk para pendatang baru, tak tahu apa niatmu, melancong ataupun refreshing-kah, tolong jangan ubah sifat dan karakteristik penduduknya. Cukup ubah dan luruskan pola pikir yang belum maju, itu saja. Seutuhnya pendatanglah yang harus belajar dari tuan rumah, kalau tidak boleh saja untuk seling bertukar pikiran. Si desa bercerita tentang keramahan dan Si kota bercerita tentang kemajuan. Dengan begitu kedamaian tercipta. Jangan terlalu jauh ke negeri orang hanya untuk dapatkan ketenangan, sejatinya di pelosok negerimu masih banyak tertimbun kedamaian.


You Might Also Like

0 komentar

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe