#27 (NANTI)
Thursday, August 31, 2017
Mungkin aku harus lebih giat lagi
Berjuang tanpa mengenang masa lalu
Melepas semua keindahan palsu
Yang dulu pernah kubangun rapi
Dibawah naungan atap semesta
Berpayung pohon rindang nan hijau
Aku berlindung, dari apapun itu
Terutama dari rintik memori yang terjatuh dari langit
Memang, semesta tak pernah keliru
Memisahkan mereka yang seharusnya terpisah
Menyatukan yang seharusnya menyatu
Semua ini tertata, dalam aturan nan sistematik
Dibahu jalan ku duduk termenung
Raut muka murung dan tercenung
Coba untuk mengenang kegilaanku dulu
Saat diri ini khilaf akan dosa yang bertabur
Mungkin, kita bisa bersatu seutuhnya
Namun saja perahumu belum mampu untuk berlayar jauh
Hingga kau putuskan untuk berlabuh, mencari nahkoda baru
Dan aku, membelah samudera luas seorang diri
Kita berdua memang sangat manusiawi
Tak ada yang ingin disalahkan, malah saling menyalahkan
Bukan masalah, mengalah tidak selalu berarti kalah
Sejatinya hatiku menang, menang melawan kerasnya egoisme
Lantas, apa kabar sekarang ?
Bukan, bukan kamu. Apa kabar perahu barumu, sobat
Apakah sang nahkoda lebih bisa membelah dan menaklukkan samudera ?
Mudah-mudahan saja, karena kulihat, kau bahagia
Tak ada yang spesial hari ini, terutama rintik
Dedaunan tidak begitu kuat, tapi setidaknya bisa menahan sebentar
Saat kusaksikan kau berlayar bersama nahkoda hebatmu
Ini bukan kesedihan, aku senang. Karena sejatinya, senyummu sudah cukup bagiku
Jangan lupa, kita tetap berteman, kan ?
Kalau nanti pertemuan tak disengaja mempertemukan kita
Ingat, aku ini bukan orang asing untukmu
Bukankah kita pernah berjuang dan saling menjaga ?
Sapa salammu menandakan keceriaan, senyum manis tanpa rasa dengki
Saat ini kulihat kau berlayar, terikat janji. Tak apa lah
Mungkin nanti, saat layar kapalku telah berkibar
Kuharap, kau juga datang. Melepasku berlayar bersama awak baruku.
1 komentar
Mmmmm..... Tambah keren soooobb
ReplyDelete