#28 (SIAPA)
Friday, September 01, 2017
Pernah jadi spesial, tapi tidak hari ini, mungkin
Perhatianku penuh, sadar, hingga lupa segalanya
Saat dimana pemberhentian adalah sesuatu yang harus
Akhirnya, pecah terbelah dua bercerai-berai, sirna
Yakinku, kau tahu. Bahwa dulunya ada yang beda, kan
Dahulu tak ada amarah, muka masam, hingga saling hina
Ramah, saling sapa hingga menyayangi satu sama lain
Sekarang, kita sudah harus jauh
Memang, perasaan adalah tentang kepekaan
Sayangnya, aku kurang perhatian, katamu
Menurutku, kau layaknya algoritma, sulit untuk dimengerti
Waktu telah tiba, ayo pergi. Tunggu waktu saja
Tiupan angin membawa rinduku jauh, kemana entah dirinya
Aku harus berlatih lagi, kurang sekali rasanya diri ini
Kau susah untuk dilupakan, pergilah, wahai jiwa yang hilang
Pergi saja, kali ini, kau belum kubutuhkan. Sumpah !
Yah, untung-untung ada orang baru
Mungkin lebih pantas untukmu, pemain pengganti
Dia bisa lebih baik, dibanding orang lama dengan kenangan lawasnya
Cepat lupa, wahai permaisuri palsu
Nyalakan lampu kuning tanda perpisahan
Tak perlu ada tangis nampaknya, karena ini baru permulaan
Kita manusia biasa, tak pernah tahu apa akhirnya
Siapa yang tahu tentang pertemuan setelah perpisahan ?
Waktuku belum habis, aku baru memulainya, kawan
Kau juga, kuharap begitu. Jangan lelah, jangan sedih
Apa salahnya ku ingatkan, kita masih teman, kan ?
Jangan bawa perasaan, ini hanya susunan kata biasa
Kalau nanti selembar undangan tiba untukku
Jangan takut, aku adalah orang pertama yang ucapkan selamat
Menyalamimu tanpa menyentuh, menatapmu tanpa ada rasa sedikitpun
Kuhargai dirinya, orang barumu itu. Jangan bertengkar
Impianku pernah over dosis, saat masih gila-gilanya
Memasang cincin dijemarimu, bersalaman dengan walimu
Mengucap akad, bersatu untuk selamanya
Sekali lagi, aku manusia. Merencanakan, bukan memutuskan
Sudahlah, angan-anganku terlalu jauh, kawan
Tak ada lagi kata sayang, kita jauh, sangat jauh, bukan satu
Jalani hidupmu, kejar cita-citamu. Jangan putus asa
Selamat berkarya, sayang. Maaf, kau sudah kawan ternyata
Bergeraklah wahai permaisuri lawas, temukan pangeran barumu
0 komentar