#36 (OBROLAN MALAM)

Tuesday, October 17, 2017


Mereka, teman-temanku sedang asik-asiknya dalam perbincangan hangat. Tempatnya juga tidak begitu mewah, hanya sebuah lapak yang digunakan untuk menjual kelapa. Seperti biasa, aku pun ikut berbincang, bagaimana tidak, mereka terlihat sangat seru sekali. Banyak hal yang kami perbincangkan kala itu, obrolan remaja seusia kami tentunya. Mulai dari pekerjaan, karir, kuliah, hingga yang terakhir adalah kawan hidup. Satu persatu kami kupas setajam silet, meskipun sebenarnya perbincangan kami tidak sebegitu seriusnya, dan kadang kala alurnya kemana-mana juga. Tidak apa-apa lah, yang penting pokok perbincanganny adalah beberapa hal tadi. Salah seorang temanku berbicara lantang, "setelah sarjana nanti, aku ingin langsung menikah", jelasnya dengan penuh rasa bangga. Itu terdengar aneh, sungguh berani keputusannya. "targetnya saat wisuda nanti, aku sudah harus punya calon istri", tambahnya, membuatku semakin kagum. malam itu, kuposisikan diriku sebagai pendengar terbaik, karena kusadar dari mereka semua, hanya aku yang rasanya belum bisa membaca masa depan. 

Saat dihadapkan oleh pertanyaan serupa, hanya senyum simpul yang kuberikan. Tanda bahwa persiapanku belum sepenuhnya penuh. Berani berbicara, berani berargumen, berani membuktikan. Kurasa susunan tiga suku kata tersebut sudah tepat. Bila dilihat dari materi, temanku tadi memang sudah mumpuni, dengan umurnya yang masih muda dia sudah memiliki usaha sendiri. Uang jajannya adalah hasil dari keringatnya itu. Berbeda denganku, yang mana uang untuk membeli bensin pun masih mengemis didepan orang tua, miris. Tak apa lah, biarkan waktu berputar. Ternyata perkiraanku salah, bukan hanya aku, salah seorang teman yang sedari tadi hanya mendengarkan ocehan di pojokan juga sama, rencananya akan masa depan masih sangat abu-abu, bahkan mungkin lebih parah dariku. Wajahnya sedikit murung saat kutanyakan "bagaimana dengamu, sudah punya pikiran untuk kedapan, lanjut kuliah atau langsung menikah ?", hanya gelengan kepala yang kudapatkan. Kudekati dirinya lalu berbisik ketelinganya "alhamdulillah, ternyata kita sama", kulanjutkan dengan senyum simpul diwajahnya. Dibalas dengan wajah sinis, malam itu aku dianggap orang gila olehnya. Malam itu kami berbincang berempat saja, entah kemana yang lainnya. Sibuk mempersiapkan masa depan mungkin, atau sibuk dengan calon ibu masa depan ?, entahlah.

Giliran temanku yang terakhir, gagasan dan ocehannya sedari tadi membuatku sangat kagum. "Setelah sarjana aku akan langsung kerja, setelah itu baru menikah". Sekali lagi aku terpojok oleh pemaparan yang begitu apik. Bila dilihat dari materi, dia memang sudah mumpuni, tampangnya juga keren, banyak wanita yang suka padanya. Kemampuan, bisa dibilang cukup, ia sangat  multi talent, segala jenis tarian mulai dari tradisional hingga modern bisa ia peragakan, memang hebat anak itu. "Sekarang, untuk mengisi waktu kosong, tiap harinya aku pergi berlatih menari juga sedang melamar menjadi guru", semakin membuatku terpojok, teman yang bersifat sama denganku tadi juga merasakan hal yang sama, kami hanya saling tatap. Malam itu, tepat didepan lapak kecil itu, kami terbagi menjadi dua kubu, kelompok yang jelas masa depannya dan kelompok yang belum jelas masa depannya, dan semua orang pasti tahu aku masuk di kubu mana. Sejenak sesaat perbincangan kami selesai, aku berpikir. Dari tadi, aku hanya mempertimbangkan persiapan materi saja. Padahal, masa depan tidak hanya membutuhkan hal itu, masih banyak yang perlu disiapkan, salah satunya mental. Kuakui, temanku yang pertama memang sudah memiliki keduanya, bisa dilihat sekilas. Tapi tidak untuk yang terakhir bicara, bahkan, dia tidak lebih baik dariku. Meskipun standar kebaikan itu tidak terlalu jauh beda. 

Bilamana standar hidup ini hanya diukur dengan materi, maka hanya orang kaya lah yang berhak akan kesuksesan. Bilamana standar kesuksesan diukur dengan harta, niscaya tak akan kita temukan orang miskin yang tersenyum. Ternyata semuanya tidak harus tentang harta, kita semua punya standar masing-masing. Bila tiap harinya kita hanya memandang orang lain, mengikuti standar hidup orang lain, kita tidak akan pernah menjadi diri sendiri. Saat memandang orang kaya berhamburan harta, kita tidak harus menghambur harta juga. Saat melihat orang lain menikah muda, kita tidak harus menikah muda juga, bukan takut, niatkan saja untuk menjadi lebih baik untuk masa depan yang lebih cerah. Kita punya standar kesuksesan masing-masing, yang tidak semuanya harus diumbar pada publik. Belum tentu ia yang bercerita lantang tentang masa depan ialah orang yang jujur dengan itu, bisa saja ia berkata untuk menghangatkan suasana saja. Sebaliknya, tidak menutup kemungkinan orang yang hanya diam tidak punya rencana masa depan. Teruslah berjalan dan temukan titik pemberhentian akhirmu. Bilamana orang sudah terlebih dahulu sampai, jangan panik, menoleh lah kebelakang, masih banyak yang lebih tertinggal darimu. Karena hidup ini bukan tentang apa yang cepat didapatkan, tapi tentang apa yang berkah didapatkan. Salam, tabik !, sampai bersua di garis finish kehidupan !.

You Might Also Like

0 komentar

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe