#39 (SEBUAH ESENSI)

Sunday, October 29, 2017

dirimu yang terjaga lebih indah dari apapun :).
Entah kenapa, hari ini terasa baik. Seperti biasanya, kuawali dengan melangkahkan kaki menuju surau, membaca kalimat Allah, membuka laptop sembari menunggu inspirasi. Bukan cuma aku, kalian semua pun begitu rasanya, bahkan lebih. Setelah lulus dari pesantren, hidupku terasa kurang teratur . Dulu, seluruh kegiatan sudah tersusun rapi, sistematis, terintegrasi. Kelulusan datang, dan tepat saat ini, aktifitas harian harus dijadwal secara manual, intinya bila malas menghalang, bisa dipastikan hari itu pun akan sia-sia, tanpa ada aktifitas sedikitpun. Maka bersyukurlah pada orang-orang yang bisa memanfaatkan waktu, kalian luar biasa, i swear. Tolong ajari aku, bagaimana cara mengatur waktu (alay gitu sih, om :)).

Tanpa disadari, waktu telah merubah hidupku seratus persen, even more. Dulunya, dunia membaca adalah salah satu alergi paling mematikan untukku, melirik saja tak mau, apalagi membeli buku. Jangan harap. Dulu, dunia tulis menulis adalah salah satu pantangan, menulis sangat sulit untuk kulakukan, karena memang, dulunya aku malas beli pulpen :). Alhamdulillah, sekarang, satu persatu alergi sudah bisa kuhilangkan. Jika ada uang, kuusahakan untuk membeli buku, tak lupa beli pulpen atau alat tulis lainnya, kalau tidak, aku takkan pernah menulis. Seiring berkembangnya zaman, orang-orang mulai beralih dari menulis di buku tulis menuju diary online, blog atau apalah itu. Salah ?, tidak juga. Yang terpenting esensi dari menulis itu sendiri. Bukankah kita menulis untuk mengaspirasikan imajinasi ?. Dimanapun dan dengan apapun itu, menulis tetaplah aktifitas yang sampai saat ini membuatku ketagihan, entah kenapa. Suaraku yang tak terhirau bisa dengan mudah kucurahkan dalam tulisan. Keren, kan !.

Untuk bisa menulis dengan baik, perlu kiranya untuk membaca dengan baik. Kata-kata tadi kudapatkan langsung dari seorang penulis handal, sebut saja bunga. Ia hebat, pengalamannya tak terbendung, kakinya sudah melalang buana seantero dunia ini. Dari perkataannya itu, aku mulai sadar, mengapa selama ini tulisanku masih begitu-begitu saja. Jawabannya, karena nyatanya aku jarang membaca. Apa saja, baca dulu. Bosan pastinya, dan kurasa awal dari segala permulaan akan dihiasai dengan kebosanan. Ngantuk ?, tentu saja. Sobat, imajinasimu belum terbang, membaca bukan hanya proses mengeja dan mengurut kata, lebih, membaca adalah proses berimajinasi yang dihasilkan oleh perpaduan antara mata, hati, dan pikiran. Bijak bet sim om ! :). Bila ketiga komponen tadi sudah tergabung, maka akan tercipta robot besar yang akan mengalahkan musuh power ranger, (eehh paan sih). Anggap saja musuh itu adalah rasa bosan dan kantuk tadi.

Akhirnya, sampai detik ini, aku mulai mencoba menggeluti dua hal, membaca dan menulis. Terserah mulut mereka berkata, mau dikatakan sok-sok-an juga tak masalah. Sobat, hidup ini sudah sulit, jangan kau persulit lagi dengan mendengarkan cibiran orang lain. Insya Allah, karyaku yang selama ini kupendam akan segera muncul dalam bentuk buku. Entah kapan hari itu tiba, tunggu saja. Bagaimana dengan judulnya ?, masih rahasia. Novel atau kumcer ?, masih rahasia juga sih. Saat ini, aku masih sibuk mengatur semuanya. Mudah-mudahan saja  nantinya bisa berguna untuk alam semesta ini. Sudah dulu, sampai jumpa di tulisan berikutnya. 

You Might Also Like

1 komentar

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe