PENGAKUAN

Saturday, June 01, 2019

Pada akhirnya, kita hanya akan kembali kepada ketiadaan. Kenapa? Karena dari sejak awal penciptaan, telah ditakdirkan bahwa kita bersifat fana. Semuanya, bahkan dunia dan seisinya. Mau sombong apa? Tidak ada. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana cara agar akhir dari kehidupan kita adalah senyuman. Kita dilahirkan dengan tangisan, dan orang lain senang dan tertawa. Mudah-mudahan kita diakhirkan dengan senyuman dan orang lain mengeluarkan tangisan. 

Ada banyak contoh yang Allah berikan, sebagai peringatan dan contoh buat kita. Orang-orang sholeh misalnya. Yang selama hidupnya diisi dengan kebaikan. Mereka mati dengan tenang, penuh senyum, dengan bau semerbak. Coba perhatikan diri kita, apakah yang kita lakukan selama ini adalah kebaikan? Jika belum, mari sama-sama berubah. Jika sudah, mari sama-sama kita tingkatkan dan saling menasehati. Bisa jadi orang yang kita lihat paling buruk hari ini akan menjadi yang paling baik dimasa depan. Begitupun sebaliknya.

Akhir-akhir ini tanah air kita sedang panas dengan isu-isu politik. Tidak jarang kita temukan pertengkaran antara ayah dan anak hanya karena berbeda pilihan. Permusuhan antara satu kubu dengan yang lainnya hanya karena berbeda ‘angka’. Entah kenapa, rasanya baru kali ini pemilihan umum bisa sepanas ini. Ditambah lagi banyaknya kecurangan yang direkam dan bertebaran di media sosial. Kita pun ikut andil, mau tidak mau, membela ‘dia’ yang kita anggap paling benar. Si A berkata “jangan percaya media sosial, isinya cuma hoaks”. Si B berkata “jangan percaya televisi. Stasiun tv sekarang sudah jadi milik salah satu paslon”. Alah, entah yang mana yang benar. Kedua kubu ibaratnya dua orang anak kecil yang sedang berebut satu mobil-mobilan. Saling tarik menarik, tidak ada yang mau kalah. Mereka tidak sadar, jika hal itu tetap mereka lakukan, mobil-mobilan itu akan hancur. Dimana letak hati nurani? Dimana letak lapang dada? Dimana letak keadilan? 

Sudah sejak kecil ayah dan ibu menasehati kita akan pentingnya kejujuran. “Nak, jangan bohong, tetaplah jujur meskipun itu pahit”. Seperti itu. Seberapa penting kekuasaan hingga nyawa orang yang tidak bersalah menjadi korban? Sudahlah, ingat nasehat orangtua kita dulu. Jujur, jujur, dan jujur. Kalau memang berbuat curang, katakan saja. Malu? Maka dari itu tetap jujur. Atau mungkin ‘dia’ yang tidak mau mengaku itu tidak pernah mendengarkan nasehat orang tua? Entahlah. Kalau memang kekuasaan itu bisa menolong kita dialam kubur, maka raja-raja terdahulu seperti Namrud, Fir’aun, dan yang lainnya bisa hidup dan mati dengan tenang. 

Lebih baik fokus pada hal-hal yang akan membantu kita kedepannya. Perbanyak membantu orang lain, perbanyak membaca kitab suci, dan masih banyak lagi kebaikan. Terakhir, yang kalah berlapang dadalah. Yang bohong, jujurlah. Dan yang curang, akuilah. Mungkin kita bisa lolos dari peradilan manusia, tapi, tidak mungkin bisa lolos dari peradilan Allah.
والله اعلم

You Might Also Like

1 komentar

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe