Rasa Sayange

Monday, November 04, 2019



Seiring bertambahnya umur ada banyak hal yang patut kita bicarakan. Tapi, mari berbicara tentang rasa sayang. Yang masing-masing dari kita punya arti dan cara mengaplikasikannya masing-masing. Rasa sayang terkandung didalamnya cinta, yang mana hal itu adalah anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa, Yang Maha Mencintai untuk makhluk-makhluknya yang masih sering lupa mencintai-Nya. Nampaknya seru jika berbicara tentang rasa sayang dan semacamnya, kayak ada manis-manisnya gitu. Iya, kan? Tiap kepala pasti memiliki pengertian dari rasa sayang. Untuk para kutu buku, cara terbaik untuk mewujudkan rasa sayangnya adalah tidak membeli buku bajakan. Untuk para pecinta alam, rasa sayang adalah tidak membuang sampah sembarangan. Untuk pasangan suami istri, rasa sayang adalah menjaga anak-anaknya dengan sepenuh hati. Dan masih banyak lagi, mungkin bisa kau tuliskan dan jabarkan sendiri di buku catatanmu.

Masuk pada topik utama, mari berbicara tentang rasa sayang kepada orangtua. Mungkin sewaktu kecil dulu bentuk sayang kita kepada mereka adalah mencium tangan sebelum berangkat sekolah dan pulang sekolah. Lalu ketika beranjak remaja kita mulai lupa dengan hal-hal kecil seperti itu, tak ada lagi ritual cium tangan. Kita mulai mengabaikan hal kecil yang punya arti besar itu. Lebih lagi, kita juga mulai kurang ajar, membantah omongan mereka. Perbuatan yang secara tidak langsung melukai hati mereka, dan kita mengabaikan hal itu. Sebelumnya kita sepakat dulu, kalau hidup adalah feedback, timbal balik. Dulu orangtua menjaga dan membesarkan kita. Sekarang apa feedback kita? Dulu orangtua mengajarkan kita membaca. Sekarang apa feedback kita? Kalau sudah ada jawab dalam hati. Kalau belum coba tanya lagi, sesibuk apakah dirimu sampai-sampai lupa untuk menyayangi mereka yang telah membesarkanmu? 

Kita mungkin terlalu sibuk dengan orang spesial yang kita sebut pacar hingga lupa pada mereka. Kita mungkin lebih memilih telponan berjam-jam dengan kawan ataupun pacar dan enggan menelpon mereka hanya untuk sekedar bertanya kabar. Kita mungkin terkalu sibuk mengingat hal-hal buruk yang telah mereka perbuat dan lupa akan semua pengorbanannya. Kita mungkin lebih senang duduk berjam-jam di kedai atau warkop dengan teman-teman daripada bercakap dengan mereka dengan topik-topik sederhana. Kita mungkin pura-pura tidak tahu akan semua yang telah mereka berikan dan selalu meminta hal-hal yang mungkin saja belum mampu mereka berikan pada saat itu. 

Untuk kita yang sedang jauh dari orangtua. Sisihkan sedikit menit untuk menelpon mereka dan sisipkan doa pada sujud panjangmu. Untuk kita yang sedang dekat dengan mereka. Berjanjilah untuk setidaknya memancarkan senyum dari wajah mereka dengan tindakan-tindakan positif yang kita lakukan. Berjanjilah untuk selalu menyayangi mereka. Dan mari bersama-sama kita berjanji untuk menyayangi mereka sejak hari ini sampai kapanpun. Janji? Jawab dalam hati saja anak baik. 

Tulisan ini untuk kita semua, tanpa terkecuali.

You Might Also Like

0 komentar

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe