Dear, Anak 90-an

Monday, February 10, 2020

Hai, anak 90-an. Apa kabar? Kalau belum baik, tarik nafas dulu; mungkin saja kita terlalu fokus mengejar dunia yang nyatanya cuma sebesar sayap nyamuk itu. Kalau sudah baik, syukurlah. Semoga kita semua selalu dalam kebaikan. Generasi 90-an adalah masa transisi dari zaman yang boleh dibilang jadul ke zaman modern. Coba ingat-ingat lagi, mungkin kita adalah generasi terakhir yang merasakan nikmatnya bermain bola di bawah rintik hujan. Karena nyatanya, hal itu jarang dan bahkan mustahil untuk dilakukan saat ini khususnya di perkotaan. Sudah banyak lapangan dengan atap dan juga dinding beton berdiri tegak. Dan juga, kita mungkin adalah generasi terakhir yang masih menggunakan surat untuk mengungkapkan segala sesuatu khususnya perasaan. Zaman sekarang serba canggih, cuman bermodalkan sinyal internet saja. 

Sadar ataupun tidak, kebanyakan dari kita sudah punya ponakan bahkan sudah ada yang jadi orangtua. Betul tidak? Senyum dulu, tidak terasa kita sudah semakin tua saja. Buat om dan tante yang saat ini sudah punya ponakan, beritahu mereka yang baik-baik. Hitung-hitung belajar menjadi orangtua. Untuk yang sudah menjadi orangtua, pastikan bahwa kalian adalah cerminan terbaik untuk generasi selanjutnya. Untuk yang belum menikah, sudah berapa kali ditanyai 'kapan nikah?' Atau mungkin sudah bosan ya. Untuk yang sudah menikah, sudah berapa kali ditanyai 'kapan dapat momongan?' Sudah bosan yah. Lalu, untuk yang sudah punya anak, sudah berapa kali ditanyai 'kapan nambah momongan?' Sudah bosan yah. Senyumin aja! Anggap saja semua pertanyaan itu adalah doa terbaik dari mereka. Syahdan, orang-orang akan senantiasa membandingkan kita dengan orang lain. Disaat kau belum menikah, perbadinganmu adalah mereka yang sudah menikah. Apalagi adik kelas sudah mendahuluimu, ada rasa sakit tersendiri dengan hal ini. Bersiaplah menerima serangan pertanyaan. Disaat kau sudah menikah, perbandinganmu adalah mereka yang sudah punya anak dst. Apakah kita setua itu, kawan? Mungkin iya, dan umur tidak bisa berbohong. Kita sudah masuk dimasa-masa itu. Tapi, apakah hidup memang begitu? Maksudnya, selalu memaksakan sesuatu biarpun belum terjadi? Semoga saja tidak.

Begini, sampai kapan kita akan membanding-bandingkan antara satu sama lain? Yang belum menikah dibandingkan dengan yang sudah menikah dan lain-lain. Apakah hidup cuma berisikan perbadingan saja? Semasa sekolah kita saling membandingkan nilai. Lanjut, ketika kerja kita saling membandingkan pendapatan. Sebaiknya kita bisa lebih fokus dengan pencapaian diri sendiri tanpa harus melihat kelebihan dan pencapain orang lain. Hidup tidak harus diisi dengan rasa iri lalu berlanjut stress disaat kita tidak bisa memenuhi ekspetasi buta itu. Menikah memang ibadah, tapi bukan satu-satunya ibadah, kan? Jika belum mampu masih ada ibadah lain. Mungkin saja belum waktunya. Masih ada suara adzan sholat lima waktu yang belum kita segerakan panggilannya. Masih ada puasa Senin-Kamis yang belum kita istiqomahkan dll. Sekali lagi, ini hanya sekedar pendapat. Kalian boleh setuju dan tidak. Untuk yang sudah menikah tapi belum dikaruniai anak, mungkin saja belum diberi oleh Tuhan. Kita tidak tahu proses, maka dari itu tidak usah menuntut hasil. Memangnya buat anak itu mudah? Coba tanya yang sudah pernah :)

Hai generasi 90-an. Kuatkan telinga, karena di umur yang sudah tidak muda ini akan banyak pertanyaan 'kapan?' yang akan datang. Jangan dimasukkan kedalam hati bilamana kau tersinggung. Senyum! Itu doa, kok. Percaya saja. Tetap positif, asal jangan positif hamil wkwkwkkw. :)

You Might Also Like

0 komentar

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe