Duit
Tuesday, May 11, 2021Sebagai seorang anak sudah sepatutnya bagi kita untuk berbakti kepada kedua orang tua. Berbakti pun punya banyak artian, tergantung dari konteks apa dipandang. Salah satu contoh kecil adalah tidak membantah perkataan. Memang sepele, tapi, dampaknya sangat besar. Berbakti bisa juga kita artikan dengan balas budi, timbal balik. Yang mana dulunya orang tua banting tulang untuk menyekolahkan kita. Sekarang sebagai seorang dewasa sudah waktunya untuk bekerja, membalas budi, memberikan timbal balik.
Dengan hasil jerih payah dan uang yang kita hasilkan mungkin saja belum bisa membalas semua jasa kedua orang tua. Sederhana sebenarnya, cukup dengan melihat mereka menikmati hari tua dan tersenyum akan pencapaian yang kita raih. Hal itu akan menjadi kebanggaan tersendiri. Jika memang dengan uang yang kita hasilkan bisa membahagiakan orang lain, kenapa tidak, bukan?
Untuk seorang yang hidup dari keluarga sederhana sepertiku, nampaknya perkataan “money can’t buy your happiness” tidak terlalu berpengaruh, bahkan bisa kukesampingkan dulu. Nyatanya, hegemoni uang tidak pernah lepas dari kehidupan kita. Dari bangun tidur hingga tidur lagi selalu kusempatkan waktu untuk mencari cara agar hidupku bisa lebih baik. Memang uang bukanlah segalanya, tapi, segala sesuatu butuh uang. Dengan umur yang kian hari kian bertambah aku mencoba untuk hidup se-realistis mungkin. Satu yang selalu kupegang teguh, uang memang tidak dibawa mati. Tapi, cara kita mendapatkannya akan dipertanggungjawabkan.
Aku juga paham bahwa sebagai manusia
tugas utama kita adalah beribadah. Jadi kuusahakan agar apapun yang kulakukan
bernilai ibadah. Bisa kukatakan bahwa hidup adalah tentang menunggu adzan dan
ajal. Jangan sampai urusan dunia melalaikanmu dari panggilan Allah. Bisa, kan?
Harus dan wajib! Kembali ke topik, memangnya siapa yang tidak butuh uang? Untuk
bersedekah dalam bentuk harta, kita butuh uang. Lainnya, membeli beras juga
pakai uang. Nongkrong dengan kawan-kawan, butuh uang. Memberikanmu seperangkat alat sholat dll tidak hanya bermodalkan
percaya diri, kan? Sorry to say,
untuk sekarang dan entah sampai kapan money
buy my happiness. Sekali lagi ini menurutku.
How about you?
Kerja, kerja, kerja, tipes wkwkwkw
Semangat, bisa yok!
0 komentar