Insecure

Saturday, May 15, 2021

pernah gak? pernah gak? pernah lah, masa enggak

Hai, Manusia! Maksudnya aku, kamu, kita semua. Ciptaan yang terlahir sendiri namun tak dapat hidup sendiri. Apa kabar? Masihkah bertahan dengan kesendirian. Bersantai sambil mendengarkan musik pelan, ngemil tiada henti,  dan menatap layar laptop di dalam kamar. Atau mungkin sudah berani keluar dari zona nyaman? Bergaul dengan orang baru dan menerima pemikiran mereka. Sudah tahu resiko menjadi manusia, kan? Iya, mau dihindari bagaimanapun caranya, kita akan tetap hidup dengan persepsi dan penilaian orang lain.  Kesimpulan akhir adalah memilih untuk mendengarkan atau mengabaikan. Begitulah, namanya juga makhluk sosial. Tapi tahu tidak, hidup tidak berjalan semau kita. Dan bahkan, terkadang hal-hal positif yang ada akan sirna dikarenakan setitik negatif saja. Dari yang negatif tadi muncul rasa insecure (minder). Mau diterima atau tidak, begitulah hidup dengan segala seninya. 

Tak ada yang sempurna, seperti itulah hakikat manusia. Jadi begini, mengapa harus fokus pada kekurangan sedangkan kita semua punya kelebihan? Lalu, mengapa harus malu bahkan insecure? Jawabannya karena kita adalah manusia. Malu dan insecure sudah menjadi kodrat kita, tapi, bukan berarti tidak bisa diubah. Ada banyak sekali perkara kecil yang dibesar-besarkan dalam otak kita. Jujur saja, semua orang pasti merasakannya. Hal sepele yang terkadang dibesar-besarkan lalu menimbulkan rasa minder adalah kondisi fisik. Hanya karena kondisi fisik yang tidak sesuai dengan ekspetasi orang, katanya, menjadikan kita takut bergaul dan menjalin hubungan dengan orang lain lalu memilih untuk menyendiri. Realitanya, orang lain saja acuh tak acuh. Dunia tidak sekejam pemikiranmu. Penyebabnya adalah kita sendiri, aneh, kan? Kita berperan sebagai pelaku dan korban sekaligus. Siapa yang patut kita salahkan? Bercerminlah lalu bersyukur. Tak ada keburukan yang tak bisa diubah, harus yakin. Kembali ke rumus awal; tak ada yang sempurna. Kalau memang setiap orang punya selera masing-masing tentang paras, mengapa harus ada standar tetapnya? 

Tidak semua pemikiran orang harus diterima. Yang baik jadikan motivasi dan buruknya buang jauh-jauh. Kalau bisa bersyukur kenapa harus insecure? Ingat! Kalau belum bisa ambil hatinya, ambil hikmahnya. Eh, apaan, sich? Wkwkwkkww

*btw, buku yang di thumbnail itu saya yang nulis, loh (narsis)

You Might Also Like

0 komentar

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe