Gambaran Kehidupan
Thursday, June 24, 2021
“Karena hari ini adalah pelajaran menggambar. Maka, gambar dan lukiskan apapun yang ada di pikiran kalian.” Ujar Ibu Guru.
Sibuk dengan pensil dan buku gambar. Ibu Guru baru saja sembuh dan
langsung memulai kegiatan belajar. Kala itu kegiatan belajar mengajar diadakan
di Mesjid. Seketika suasana lengang, anak-anak serius menggoreskan pensil diatas
kertas. Ibu guru mengamati gambar masing-masing murid. Tidak banyak yang hadir,
hanya sepuluh orang. Tak mau kalah, ia juga mulai menuangkan imajinasinya
keatas selembar kertas putih.
Menurut cerita dulunya ia adalah pelukis yang hebat. Ia pernah menjuarai
lomba lukis alam. Tapi, tetap saja semua itu masa lalu. Mungkin saja hari ini
kemampuannya sudah memudar. Perlahan kertas penuh dengan goresan, tangan Ibu Guru
terlihat lincah. Sketsa gambarnya belum jelas, baru terlihat seperti coretan
biasa. Anak-anak pun demikian. Mereka semua serius. Dari mereka ada yang
menggambar sosok Ayah menggandeng anak. Ibu Guru bertanya tentang arti dari
gambarannya. Sang anak terdiam tidak lama kemudian air matanya terjatuh,
langsung memeluk Ibu Guru erat. Ia rindu dengan Ayahnya yang telah lama
meninggal. Penyebabnya karena kapalnya tenggelam saat sedang berlayar, jelas
anak itu. Menghapus air matanya, lalu Ibu Guru menatap sambil tersenyum. Anak
itu kembali melanjutkan gambarannya.
Mata Ibu Guru tertuju pada salah satu murid di pojok ruangan.
Berjalan mendekati, anak itu menutup kertasnya karena malu. Ibu Guru
meminta untuk membuka sambil tersenyum. Ternyata ia menggambarkan situasi
negeri yang dijajah. Banyak bangunan megah berdiri tapi dibelakangnya banyak
orang menangis. Air sungai diwarnai merah dan pohon-pohon sekitarnya kering.
Hanya bisa terdiam. Bagaimana bisa muridnya menggambar hal seperti itu. Ibu Guru
bertanya makna dari gambarannya. Anak itu berkata bahwa Ayahnyalah yang
memberikannya inspirasi. Ayahnya berkata bahwa akan datang hari dimana orang
jahat akan menguasai negeri, gedung-gedung tinggi dibangun dengan mengorbankan
tanah orang kecil, digusur lalu diusir paksa. Mengenai sungai, itu adalah
gambaran pemberontakan. Mungkin suatu saat, orang-orang akan menghalalkan
segala cara untuk mencapai kepentingannya, salah satunya membunuh saudaranya.
Ibu Guru mengangguk tersenyum.
Kembali berjalan, hingga lupa gambarannya pun belum selesai. Belum banyak
yang selesai, bahkan salah seorang muridnya belum menggoreskan apapun diatas
kertas. Total dua anak sudah yang membuatnya terkagum. Goresan mereka penuh
makna, ia sampai tak percaya. Selang beberapa menit, sudah banyak yang selesai.
Kebanyakan hanya menggambar pemandangan. Gunung, matahari, awan, burung, dan
sawah – selera seni mereka sangat rendah.
Tersisa dua anak, salah satunya
belum sama sekali menggambar. Kejutan apa lagi yang akan ia lihat. Mungkin gambaran anak ini lebih
bermakna dari teman-temannya. Diatas kertas putih, ia menggoreskan banyak
karakter. Karakter pertama ialah manusia berperut besar yang sedang menyantap
uang kertas di dalam piring. Perkiraan Ibu Guru benar, tanpa tunggu lama,
langsung menanyakan maksud. Ini adalah gambaran kehidupan masa kini, jelasnya.
Kata Ayahnya banyak orang di luar sana yang mana semasa hidupnya hanya mengejar
kepentingan dunia, hanya mengejar uang. Pikirannya telah tergerogoti oleh
kenikmatan sesaat, tak ada hari tanpa uang, hingga lupa akan Tuhannya. Karakter
kedua adalah manusia berkepala ular.
“Banyak manusia yang bersifat seperti ular, licik, suka menipu.” Kata
murid.
Karakter ketiga adalah manusia berkepala harimau. Harimau merupakan hewan
pemakan daging, bahkan saat lapar harimau akan memakan saudaranya. Inilah
maksud dari karakter tersebut. Ia menambahkan bahwa sewaktu-waktu manusia bisa
melebihi sifat harimau. Harimau tergolong dalam karnivora, sedangkan manusia
adalah omnivora, pemakan segalanya. Manusia bisa memakan saudaranya, bisa
memakan uang, dan hal-hal keji lainnya, kata murid. Karakter keempat membuat Ibu Guru
terheran. Tak seperti yang lainnya, yang keempat diwarnai lebih terang dan
terkesan baik. Ia menggambar seseorang yang duduk diatas singgasana, di lain hal
orang lain tersenyum padanya. Kali ini, Ibu Guru senang. Setelah beberapa
karakter jahat, inilah akhir dari semua. Anak itu menjelaskan bahwa karakter
keempat lah musuh bagi karakter-karakter sebelumnya. Ini adalah gambaran
pemimpin yang baik, jelasnya.
“Orang gendut berperut besar akan kalah dengan pemimpin yang baik.” Jelas murid.
Tuntas sudah tugas Ibu Guru, anak-anak pun kini sibuk lari-larian disekitaran masjid. Kali ini waktunya untuk mengeluarkan bakat yang lama terkubur. Dengan senyuman ia memulai
0 komentar