Cuma Rindu, Itu Saja!
Wednesday, June 09, 2021
“Mengapa engkau menangis anak manis?” Tanya seorang nelayan tua
“Aku sedang rindu.” Jawab gadis kecil berambut panjang
Seorang nelayan tua yang hendak melaut mendekati seorang anak kecil yang
menangis. Matanya bengkak, ia menangis cukup lama nampaknya. Niat melautnya
urung, ada persoalan yang lebih penting. Anak gadis sedari tadi duduk diayunan.
Sedangkan nelayan tua agak bungkuk di depannya. Memegang pundak anak kecil itu,
lalu menghapus air matanya. Seketika anak kecil memeluknya.
Tidak mungkin tanpa sebab, bahkan seorang tua pun menangis karena sebab.
Air mata tak keluar sendirinya, ada banyak hal yang menyebabkannya mengalir.
Nelayan beberapa kali bertanya, hanya gelengan kepala yang didapatkan. Tanpa
putus asa, mencoba terus tanpa henti. Anak kecil terus saja menangis, matanya
semakin bengkak. Negeri Dongeng masih sepi kala itu, hanya mereka berdua.
Masyarakat lain banyak yang lebih memilih ke kebun, suasana laut tidak bersahabat.
Anak kecil kembali memeluk, nelayan tak kuasa menolak. Apapun yang terjadi
ia harus tetap melindunginya. Sepertinya anak kecil itu punya masalah besar. Nelayan
tua kembali bertanya, ada jawaban meskipun pelan. Anak kecil berbicara tak
jelas, suaranya bercampur tangisan. Mengelus pundak, berusaha menenangkan
pikirannya, nelayan tua terus berusaha. Jika tak ada jawaban, maka bisa
dipastikan panen akan ditunda esok hari. Nelayan penasaran. Akhirnya, anak
kecil tertidur di pelukannya. Tertawa kecil, sepertinya yang ia lakukan
sia-sia, sambil sesekali menggelengkan kepala. Nelayan membawayanya ke gubuk.
Sepertinya nelayan harus menunggu lama, masalahnya bertambah. Ia harus menunggu
anak kecil hingga terbangun dari tidurnya. Seseorang setelah menangis akan
merasa capek, apalagi dengan waktu yang lama.
Membangunkan si kecil hanya akan menambah masalah, tangisannya
akan berlanjut. Lama sekali, hingga nelayan tua ikut tertidur.
Nelayan tua itu sudah lama hidup sendiri. Anak-anaknya melalang buana diamana-mana. Ada yang
disekolahkan ke sekolah militer, ada juga yang sudah kerja di kapal ikan.
Istrinya sudah lama meninggal akibat penyakit langka. Tak ada obat juga rumah
sakit menangani istrinya. Segala sesuatu serba jauh, untuk sampai ke rumah
sakit pun butuh waktu setengah hari dari Negeri Dongeng. Sebenarnya tidak
begitu lama jika sarana transportasi memadai. Nelayan tua tinggal di rumah
seorang diri. Rumahnya cukup besar, hasil dari kerja kerasnya bertani rumput
laut.
Bisa dikatakan menanam rumput laut hanya untuk mengisi waktu kosong,
menikmati hari tua. Dalam rumahnya terpampang foto anaknya yang telah menjadi
tentara, ia belum pernah pulang. Foto lainnya adalah foto anaknya yang sudah
menjadi saudagar kaya, hasil dari tangkapan ikan. Foto terakhir adalah foto
anak gadisnya yang saat ini sedang proses skripsi. Hanya dengan memandangi foto
anak, kerinduannya seketika terobati. Ia sudah sangat mengerti sekali tentang
perasaan si kecil, maka dari itu ia
rela mengorbankan waktunya. Sesaat saat terbangun dari tidur, anak kecil tadi
sudah hilang. Putus asa, tapi ia menemukan sebuah foto disampingnya. Di dalam
foto berpose seorang lelaki dan perempuan, diantara mereka berdiri seorang anak
kecil. Nelayan tua mulai mengerti permasalahan setelah melihat foto. Yang perlu
ia lakukan ialah menemukan si kecil dan menyelesaikan masalahnya.
Panen tertunda untuk kesekian kalinya. Nelayan tua tetap fokus pada si
kecil. Sejak kepergiannya, nelayan tak tidur nyenyak. Hari-harinya di
penuhi dengan tanda tanya juga penantian. Setiap hari setelah melaut ia
menyempatkan untuk datang ke tempat pertama kali mereka bertemu, pohon dan
ayunan selalu saja sepi. Nelayan tua pun berinisiatif untuk bertanya pada
masyarakat, mungkin saja akan ada informasi. Ia mulai berkeliling dari rumah ke
rumah. Satu persatu warga ditanya, sambil memperlihatkan foto yang ditemukan
kemarin. Hasil nihil, tak ada yang mengetahui si kecil. Hingga sampailah
ia di teras mesjid, sembari beristirahat. Pak Imam mesjid keluar. Mereka
terlihat akrab saling menyapa satu sama lain. Setelah percakapan panjang,
nelayan tua kembali bertanya tentang si kecil. Ekspresi pak imam
seketika berubah setelah melihat foto. Nelayan tua kaget.
“Aku tahu anak ini, orang tuanya belum lama diakabarkan meninggal saat
melaut. Sekarang ia tinggal bersamaku.”
Seketika ia bergembira, begitu juga pak imam. Mereka bersama-sama menuju
rumah pak imam untuk menemui si kecil. Ketika sampai, terlihat sang anak
sedang bermain. Tempatnya tetap sama, duduk diatas ayunan. Nelayan tua menyapa
halus, si kecil membalas. Pak imam masuk kerumah, membiarkan nelayan dan
anak kecil berduaan di luar. Bercakap-cakap lama, lalu anak kecil menceritakan kronologi kematian orang tuanya.
Nelayan tua bersiap mendengarkan, ia duduk diatas pasir kali ini. Tak peduli
kotor, celana panjangnya yang kusut penuh pasir. Belum juga bercerita, ia
menangis lagi. Kenangan dan ingatan kembali menggenang di kepalanya. Air mata
kembali menetes ke pipinya.
Nelayan tua tak mau menahannya, dia juga pernah merasakan hal yang sama.
Ditinggalkan oleh orang tercinta. Tidak begitu lama, tangisan si kecil berhenti.
Kali ini sepertinya cerita akan segera dimulai. Si kecil bercerita
panjang lebar tentang Ayah dan Ibunya. Mereka berdua seorang nelayan kaya,
kehidupannya ditopang oleh hasil melaut. Tak ada saudara, ia anak semata
wayang. Semenjak orang tuanya dikabarkan meninggal ia diasuh oleh pak imam.
Kapal-kapalnya dirampas orang tak dikenal dengan dalih utang. Kedua orang
tuanya merupakan orang yang dermawan. Tiap bulannya mereka menyisihkan sedikit
rezeki untuk sedekah. Selalu seperti itu. Sampai saat ini orang tuanya belum
ditemukan, kata orang mereka berdua hilang dilautan terkenal badai. Tapi, si kecil tetap setia menunggu.
Nelayan tua merasa lega setelah mendengar penjelasan si kecil. Anak
kecil juga begitu. Memotivasi dan memberi semangat, hanya itu yang
bisa dilakukan nelayan tua. Ia pun yakin bahwa orang tua si kecil masih hidup.
Mungkin saja mereka terdampar dipulau dan ditolong oleh penduduk sekitar. Anak
kecil mengangguk tanda mengerti. Memang sangat berat rasanya untuk menahan
rindu, apalagi rindu akan orang tua. Bahkan nelayan tua sekalipun sesekali
berlinang air mata saat merindukan istri dan anak-anaknya. Begitulah rindu,
selalu datang tiba-tiba. Di balik rindu tersimpan banyak kenangan, dan hal
itulah yang membuatnya berarti. Masih ada satu pertanyaan lagi, sebelum ia
pergi melaut.
“Lantas ada apa dengan ayunan, mengapa kau selalu saja duduk dan merenung
di sana?”
Anak kecil tersenyum sambil mendongak keatas.
“Entahlah, tapi seingatku Ayah membuatkanku ayunan didepan rumah saat hari
ulang tahunku. Dengan duduk di ayunan, aku bisa kembali mengenang kenangan itu.
Kembali merindukan orang tuaku.” Ujar si kecil.
1 komentar
Keren kak, 👍
ReplyDelete