KHAYALAN TINGKAT TINGGI

Tuesday, September 29, 2015



Setelah lama berpikir, akhirnya keputusan pun telah diputuskan. Bahwasanya ayah menyuruhku untuk melanjutkan studiku di sebuah Universitas di pulau Jawa. Awalnya sih, ada perasaan nggak mau. Tapi, lama-kelamaan perasaanku berubah dan mengikuti kemauan ayahku. Mendengar kata "Jawa", yang pertama kali ku bayangkan dikepalaku adalah tempat yang sangat baik, bersih dan kehidupan bermasyarakat yang tentram. Pulau tempat berlabuhnya para pelajar dari seluruh Indonesia. Maka dari itu, persaingan akan semakin ketat. Seperti yang dikatakan ayah bahwasanya belajar di kota sendiri itu tidak enak, tak ada yang namanya persaingan. Persaingan sih ada, tapi tidak seketat yang ada di Jawa. Hari-hari ku di rumah tinggal sedikit lagi, tapi, persiapan ku juga belum lengkap. Mulai persiapan yang paling penting, yaitu mental dan juga persiapan barang-barang yang akan ku bawa kesana.

Ada perkataan orang seperti ini, "Beda ladang, Beda Belalang". Mendengar perkataan itu, terkadang aku takut, bukan takut dengan orang-orang suku asli jawa. Tapi, takut dengan lingkungan baru. Beda pulau juga pasti beda bahasa, watak, dan tingkah laku. Karena aku telah terbiasa dengan lingkungan orang-orang berwatak keras, setelah sampai disana nanti ku harus bisa menyesuaikan diri dengan watak orang Jawa yang secara umum halus dan sopan. Tidak seperti di kotaku, mungkin orang yang belum terbiasa dengan watak dan bahasa seperti itu akan terheran-heran. Intonasi  yang sangat cepat dan juga kasar  akan sangat menakutkan untuk mereka yang belum terbiasa dengan budaya di Indonesia Timur. Nada yang kasar itu sudah termasuk halus di daerahku, menurut orang asli timur, tapi tidak untuk mereka para pendatang baru.

Seperti halnya orang Sunda, yang dapat mengetahui bahasa yang dipakai itu halus atau kasar yah orang Sunda itu sendiri. Padahal, disekolah dulu banyak orang Sunda. Tapi, aku tak pernah bisa membadakan, mana bahasa yang kasar dan halus. Menurutku  bahasa Sunda yang kasar dan halus itu tak ada bedanya, semuanya terdengar halus dan sangat lambat di telingaku. Mungkin karena telah terbiasa dengan gaya bicara yang kasar dan juga cepat, sehingga gaya bicara orang sunda terdengar sangat lambat. Kita lupakan soal gaya bicara, sekarang kita bahas tentang lingkungan. Jawa adalah tempat yang sangat cocok menurutku untuk menuntut ilmu. Dalam pikiranku, jawa itu adalah tempat dengan lingkungan yang dipenuhi orang yang baik. sopan dan ramah. Tapi, itu semua hanya khayalanku. Karena sekarang badanku masih ada dirumah, walaupun arwahku sudah terbang duluan ke jawa.

Kampus yang akan jadi tempat belajar ku nanti juga masih merupakan bayangan hitam putih dikepalaku. Pernah aku bertanya kepada ayahku

"Yah, emangnya Ardi mau kuliah dimana ?".
"Kamu nggak dengar kemarin, kan udah dikasi tahu kalau kamu akan kuliah di jawa".
"Jawa itu banyak, terdiri dari beberapa provinsi loh ".
"Ayah kasi tahu kata kuncinya, kampus kamu ada di jawa timur".
"Ooohh, ya udah, makasih (belum puas)".

Setelah percakapan itu, dan mengetahui bahwa kampusku terletak di Jawa Timur, kabut di kepalaku sedikit-demi sedikit mulai berkurang. dan terlihat ayahku tertawa sinis sambil menatap kearahku setelah memberitahukan daerah tempat kampusku itu. Mungkin daerah kampusku adalah tempat pembuangan mayat tentara PKI. Sehingga, kalau malam jum'at terlihat kepala beterbangan kemana-mana. Terlihat juga perkelahian antara kuntilanak dan tuyul dengan penontonnya para zombie yang tak mempunyai kepala. Juga kamar mandi yang gelap dan tak bergayung, mereka yang membuang air besar akan kesusahan didalam kamar mandi dan lama kelamaan akan mati dalam keadaan yang tak berwibawah.  Khayalan yang sangat konyol menurutku. Tapi jika memang itu kenyataan, berarti itu adalah kampus yang paling mengerikan di dunia versi Ardi Spot.

Khayalan-khayalan konyol selalu datang untuk menggangguku. Sisa-sisa hariku dirumah kupakai untuk mengkhayalkan lokasi kampusku itu. Seminggu pun berlalu, hingga  waktu keberangkatanku pun tiba. Aku harus meninggalkan semua kenanganku tentang kota ini. Kota tempatku belajar banyak hal. Kota dimana aku dibesarkan dan juga kota yang menyimpan banyak memori-memori indahku bersama empat sahabatku. Aku pun diantar ke bandara dengan perasaan sedih. Sesampainya di bandara, terdengarlah pemberitahuan bahwa pesawat yang akan ku tumpangi akan segera berangkat. Kucium tangan orang tuaku. dan dengan berat hati ku tinggalkan mereka dan juga kota tercinta ini. Terbang merantau ke negeri orang. Membawa sejuta harapan orang tuaku yang ingin melihatku lebih sukses daripada mereka. Lalu, pesawat pun terbang meninggalkan kota itu menuju kota perantauan yang baru.





You Might Also Like

0 komentar

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe