TANDA TANYA BESAR

Monday, September 28, 2015


Hari demi hari pun berlalu. dan perjanjian yang telah disepakati telah berjalan dengan semestinya. Kami berlima saat itu sedang berada di kafe untuk merayakan satu tahunnya perjanjian itu. Perjanjian yang kami sebut dengan nama “Perjanjian Penting”. Nama yang mungkin agak sedikit aneh dan terkesan gila  untuk sebuah perjanjian. Layaknya kereta, perjanjian kami berjalan pada rel yang benar tanpa pernah melenceng sedikitpun. Begitulah persahabatan kami yang takkan pernah putus termakan oleh waktu. Satu tahun pun berlalu, dan hidup kami di SMA itu tinggal menghitung hari. Kami merasa belum ada yang dapat kami berikan untuk sekolah kami, sementara sekolah ini telah memberi kami banyak hal mulai dari pendidikan dan juga pengajaran. Para dewan guru yang kami cintai tinggal berapa hari lagi kami tinggalkan. Setiap kepala pasti mempunyai impian yang harus mereka capai. Tidak mungkin kita akan tinggal di sekolah ini untuk selamanya. Karena waktu ini terus berputar layaknya roda kehidupan yang terus berputar pada porosnya, takkan berhenti berputar sampai sang kuasa menghentikannya. Hari-hari setelah ujian terasa berjalan begitu cepat.

 Tak terasa hari yang paling dinanti oleh para siswa pun akan tiba, Hari pelulusan. Hari yang akan menentukan kelulusanmu, akan jadi apa dirimu dikemudian hari dan apa yang akan kau perbuat untuk bangsa dan negara ini, semua itu tergantung hasil kelulusanmu nanti. Pada hari itu tak ada lagi kata menyesal. Apapun yang akan terjadi pada hari itu adalah hasil dari usahamu pada hari sebelumnya. yang berusaha keras pasti hasilnya juga memuaskan dan begitu juga sebaliknya, usaha yang kurang keras akan berakhir dengan penyesalan. Pada hari itu juga bukan waktunya lagi untuk menangis. Lebih baik air matamu keluar karena sulitnya belajar daripada air matamu terjatuh akibat sulitnya menerima hasil yang tidak memuaskan dikarenakan usahamu yang kurang memuaskan.

Menjelang hari pelulusan itu kami berlima merasa sangat tegang. Karena, diantara kami tidak ada yang mau melihat  satu antara kami gagal pada tahun ini. Doa pun kami panjatkan setiap hari agar hasil kelulusan kami akan baik dan memuaskan setara dengan perjuangan yang telah kami lakukan. Setelah beberapa hari, hari pelulusan pun telah tiba dan alhamdulillah kami berlima lulus dengan nilai yang memuaskan. Memuaskan untuk kami, tapi mungkin kurang memuaskan untuk orang tua kami di rumah. Setelah melihat hasil dari pelulusan itu, kami berlima pun pulang dan singgah di tempat favorit seperti hari-hari biasanya. Kami berlima duduk dan saling mengucapkan kata perpisahan antara satu sama lain. Setelah perpisahan, seperti biasanya bercanda dan tertawa bersama di tempat itu. Mungkin itulah kenangan terakhir kami. Mungkin dilain waktu kami akan bertemu lagi. Meskipun ditempat dan waktu yang berbeda. Tapi, aku yakin kita akan ketemu lagi. Disaat pertemuan itu, kami berjanji akan bertemu dengan jabatan yang berbeda pula. Mungkin dari kami ada yang menjadi Polisi, Tentara dan lain-lain.

 Kami berlima pun pulang kerumah masing-masing. Sepanjang perjalanan kerumah yang ada di benakku hanyalah akan jadi apa aku di masa depan nanti. Ada perasaan malu dengan Ayahku yang bisa menjadi orang terkenal di kantornya seperti sekarang ini. Sesampainya di rumah, langsung ku mencium tangan kedua orang tuaku dan memberitahukan mereka kalau aku lulus dengan nilai yang memuaskan. Ayahku pun langsung memanggilku ke depan rumah dan memberi ku wasiat. Bahwasanya aku ini harus bisa melebihi dia. Ku harus bisa membanggakan orang tua di kemudian hari. Maka dari itu, Ayahku berkata bahwa jabatan yang dimilikinya sekarang ini adalah jabatan yang masih sangat rendah. Aku harus bisa jadi seperti dia dan kalau bisa harus melebihinya. Setelah mendengarkan wasiat dari Ayahku tadi, aku masuk ke kamar dan berbaring di kasur sambil memkirkan masa depan ku nanti. Tidak lama kemudian, aku pun terlelap dalam tidur yang pulas. Aku tidak menyadari kalau  tertidur dengan mengenakan baju seragam SMA ku itu.  Terbangun di sore hari  langsung mandi dan melepas seragam ku itu.

Setelah mandi ku berbaring sambil mengkhayalkan masa depan, yang mana masih merupakan bayangan hitam putih di kepalaku ini. Setelah itu aku menunaikan sholat maghrib bersama keluargaku. dan setelah sholat maghrib ayahku memanggilku ke ruangan tengah. katanya ingin berbicara empat mata.

“Kamu udah mikir mau kuliah dimana ?.”Kata ayah.
“Yah kalau aku sih terserah yah, ngikut orang tua aja”.
“Kamu jangan gitu, kamu yang sekolah ya terserah kamu. Emangnya kalau kamu sekolah yang sukses Ayah.”
“Maaf yah, mungkin kalau soal itu belum aku pikirkan.”
“Ya udah, kalau bisa kamu sholat istikhoroh dulu biar diberi petunjuk oleh Allah.”
“ Insya Allah.”Ujarku.


Setelah perbincangan antara aku dengan ayah yang akhirnya tak menghasilkan apa-apa. Aku pun naik ke atas genteng rumah dan memandang  bintang dilangit. Tapi, mungkin ku telah melakukan pekerjaan yang sangat salah, karena masalah ini takkan ada yang mengetahuinya kecuali aku dan Ayah. Setelah berbaring beberapa  lama di genteng rumah, akupun turun dan masuk ke kamar tidur. Tidak lupa ku baca doa sebelum tidur dan mendoakan kedua orang tuaku agar diberi umur yang panjang. Karena, aku ingin sekali kesuksesanku kelak bisa dilihat oleh orang tuaku. Aku juga ingin menunaikan ibadah Haji bersama orang tuaku dengan memakai uang hasil dari keringatku sendiri. Itulah salah satu niat baikku, yang belum diketahui, akan tersampaikan atau tidak.

You Might Also Like

0 komentar

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe