AWAL MULA
Saturday, September 26, 2015
Secara umum,
ini adalah cerita tentang seorang mahasiswa di sebuah universitas kecil yang
mana belum mendapatkan akreditasi juga pengakuan dari masyarakat dan Dinas Pendidikan Nasional (DIKNAS) Negara ini. Maka dari itu, untuk mendapatkan
pekerjaan ketika sudah sarjana nanti bukan hal yang mudah, atau bisa
diibaratkan sepeti mencari jarum dalam tumpukan jerami. Sorry, bukan berarti
dengan hal itu kami sebagai mahasiswa yang tidak diakui akan berhenti untuk
mencari ilmu. Tapi, dengan hal itu kami bertambah semangat untuk
memperjuangkan kampus kami ini,
agar segera diakreditasi oleh pemerintah dan mendapatkan
pengakuan dari masyarakat sekitar bahkan
dunia.
Cerita ini berawal setelah ku lulus dari SMA, disaat semua orang
telah mendapatkan dan memasang target setinggi langit. Setelah
pelulusan itu aku dan kelima sahabat ku pergi ke belakang sekolah sambil berbaring
diatas rerumputan dan memikirkan masa depan satu sama lain. Temanku bernama
Aris berkata ”Sorry teman-teman, setelah ini kalian mungkin tidak bisa bertemu
denganku lagi, karena aku harus kerja menjadi seorang TKI ke Malaysia”. Setelah
mendengarkan perkataan Aris itu, aku juga ikut sedih. Tapi, aku tetap memakluminya
karena kalau tidak menjadi TKI siapa lagi yang akan menopang kehidupan keluarganya.
Ayah dan ibunya yang telah meninggal dunia. kebutuhan sekolahnya selama ini
dibiayai oleh paman dan bibinya yang tidak suka dengan dirinya. Memang menurut
cerita dari warga sekitar rumah Aris dia dulunya seorang yang kaya. Tapi, setelah
ayah dan ibunya meninggal, dia hidup sebatang kara dengan paman dan bibinya
itu. Ayah dan ibu Aris merupakan orang yang terkenal ramah dan tidak sombong.mereka
sering bersedekah kepada tetangga-tetangga lainnya. Kabar tentang
orang tua Aris sampai saat ini belum ada yang jelas. Ada gosip yang mengatakan bahwasanya mereka berdua terkena
penyakit yang tidak diketahui obatnya. Ada juga yang mengatakan bahwasanya
mereka berdua pergi entah kemana karena bapaknya bangkrut dan menitipkan
anaknya ke paman dan bibinya tersebut. Tapi, itu semuanya hanya perkataan orang
lain yang tidak dapat dijadikan bukti yang pasti. Satu lagi temanku yang
bernama Yayat. Mungkin, diantara kami berlima Yayat inilah yang mungkin masa
depannya sudah dapat dikatakan jelas. Dia akan melanjutkan studinya ke salah
satu Universitas terkenal di Turki. Yayat merupakan anak yang terbilang cerdas di
kelas. Kami semua sering mengerjakan PR bersama-sama setelah keluar dari kelas.
Rumah Yayat yang begitu besarnya, merupakan tempat yang asyik untuk bermain dan
juga belajar sambil beristirahat sembari melepas lelahnya belajar
seharian.Yayat dan orang tuanya adalah penganut agama Nasrani. Tapi, bukan berarti
dengan agama yang berbeda kami tidak boleh saling berteman. Orang tua Yayat
juga senang kami bisa bersahabat dan datang ke rumahnya. dan satu lagi
temanku bernama Raka.
Dia adalah penganut
agama budha yang sangat taat. Dia bersama orang tuanya yang bekerja sebagai
petani dan businessman yang sukses di daerahnya itu seringkali meluangkan sedikit
waktu mereka untuk pergi ke Wihara sembari untuk bersembahyang. Bahkan, disaat
kami datang kerumahnya sambutan hangat selalu menyambut kami seakan tak ada
perbedaan antara kami. Orang tuanya yang ramah pun membuat kami betah tinggal
dirumahnya.dan juga posisi rumah yang tak jauh dari sungai menjadi pelampiasan
rasa lelah setelah ulangan umum berakhir. Setiap ulangan umum berakhir kami
selalu menyempatkan waktu untuk pergi kerumah Raka dan bersantai disamping
sungai. Apalagi ditemani dengan secangkir susu hangat buatan orang tuanya yang
sangat khas, dan juga kue putu yang sangat menggugah selera kami. Seakan
mengembalikan tenaga kami setelah bermain di sungai. dan yang terakhir, temanku
yang bernama Rahmat dia dan orang tuanya adalah penganut agama katolik. Orang
tuanya yang sangat baik juga membuat kami nyaman dirumahnya, ayah Rahmat juga seorang yang humoris dan sifatnya yang sangat
bersahabat dengan kami dan juga ibunya yang sangat ramah dan juga
cantik.seringkali kami menyempatkan waktu kami untuk mampir setelah pulang
sekolah kerumahnya untuk senantiasa tertawa bersama ayahnya. Ayah Rahmat
orangnya sangat gendut, sehingga kalau tertawa perutnya seakan berguncang
seperti gempa bumi. Itulah yang kadang membuat kami tertawa karena melihat
perut ayahnya. Ibunya juga sering mengajak kami untuk berjalan-jalan
mengelilingi bukit dibelakang rumahnya dan juga kami sering membantu ibunya
bekerja di kebun keluarganya yang terletak didalam hutan. Sambil menikmati
pemandangan kami bekerja hinga tak kenal lelah.hingga saat tiba waktu untuk
beristirahat suguhan kue dan es buah buatan ibunya, seakan membuat rasa lelah
kami menghilang. Jika telah datang sore hari, kami pun pulang kerumah
masing-masing.
Setelah memperkenalkan
semua hal tentang teman-temanku, sekarang waktunya untukku memperkenalan
diriku, namaku adalah Ardi. Aku adalah anak dari
keluarga yang biasa-biasa saja tapi keluargku mempunyai harapan yang luar
biasa. Orang tuaku selalu berharap agar kelak dikemudian hari anak-anaknya bisa
disekolahkan hingga ke jenjang tertinggi dan bisa jadi anak yang
berbakti.begitulah harapan orang tuaku yang sekarang bekerja sebagai seorang
Polisi di daerah Kendari, Sulawesi Tenggara. dan ibuku adalah seorang ibu rumah
tangga biasa yang mempunyai kerja sampingan sebagai seorang penjual nasi kuning
yang biasanya diantarkan ke rumah makan sekitar kompleks. Aku adalah anak kedua
dari 3 bersaudara.yang sebenarnya ada 4 bersaudara tapi, kata ibuku kakakku
yang pertama meninggal dunia tepatnya sebelm kelahiranku karena tertabrak oleh
mobil pembawa bahan bakar minyak. dan pada saat itu aku dan adikku yang
terakhir belum lahir. Maka dari itu, aku hanya
bisa mendengarkan cerita dari kedua orang tuaku.Tapi, dengan
keadaan keluarga yang seperti itu aku tetap senang. Karena, mendapatkan orang
tua yang baik seperti mereka berdua.tidak hanya cerita sedih yang ada dalam
keluargaku, cerita senang pun banyak terjadi di dalam keluargaku.
Ayahku yang humoris yang hobinya menonton film
“TOM AND JERRY” sebelum pergi ke kantor kadang menjadi hal yang unik menurutku.
Terkadang Ayahku itu terlambat masuk kantor karena keasyikan menonton film itu.
dengan motor GL_MAX dia pun bergegas setelah menonton film itu untuk melaju ke
kantornya. Motor itu adalah motor kesayangannya.sudah berapa tahun motor itu
dipertahankan oleh ayahku. Motor yang biasa kusebut dengan panggilan “MOTOR
BUTUT” atau dengan sebutan lain “MOTOR BERKNALPOT DUA”. Sebutan itu aku
dapatkan setelah melihat motor yang warnanya sudah tidak diketahui warnanya,
meskipun pelukis terhebat di dunia yang melihatnya. Motor yang warnanya tidak
layak itu tetap saja tidak mau diganti oleh Ayahku. dan juga, knalpot yang
sudah penuh dengan lubang, tetap saja dipertahankan oleh Ayahku. Meskipun dengan
sifatnya yang seperti itu, aku tetap bangga padanya karena dia termasuk orang
yang terkenal dan dihargai di kantornya. Meskipun dengan
jabatan yang tidak terlalu tinggi, dia tidak pernah merasa sombong. Karena, jabatan dan tahkta
yang ada di dunia ini adalah titipan dari Allah SWT. Tergantung
hambanya bagaimana dia menggunakannya.
Begitulah cerita
tentang tentang keluargaku yang sangat asyik, apik dan menarik itu.
Bersambung ke judul selanjutnya............
0 komentar