#1 (NEGERI DONGENG)

Monday, November 21, 2016


21th, November 2016
Sebelumnya, selamat datang di tempat nan indah, tempat para pejuang berjuang dan tempat para penipu menipu. Salam hangat untuk kalian para pendatang baru, selamat berjuang disini. Langkah kalian ditentukan sejak pertama kali berpijak disini, impianmu hari ini adalah tanggung jawabmu. Baru kemarin rasanya air bah nan besar (baca:tsunami) datang memporak-porandakan tanah ini. Gedung jatuh runtuh, pohon tumbang, rumput hilang, udara senyap dan seketika kota pun lengang. Meskipun terjadi di ujung sana, tanah indah lainnya yang berada di sekitarnya ikut merasakan dan simpati. Sebagai bukti, banyaknya sumbangan berupa makanan dan bahan pokok lainnya yang berlalu lalang tanpa henti, keluar masuk tanpa capek demi memenuhi isi perut saudara. Kalau tidak salah, itu telah berjalan kurang lebih 12 tahun, bukan waktu singkat tapi kita masih saja mengingatnya (belum move on).
Untuk kedua kalinya, selamat datang di tempat nan indah, tanah yang dipenuhi oleh bangunan. Infrastruktur di tanah ini sudah semakin maju saja, sayangnya tidak dibarengi dengan majunya pemikiran masyarakat. Disini, di tanah ini, bangunan tumbuh layaknya lumut di daerah resapan air, sangat cepat tak terasa. Baru kemarin rasanya sawah hijau mewarnai tanah ini, indah rasanya udara juga masih sejuk tanpa ada polusi yang beterbangan. Jikalau dulu para pemilik tanah menjual tanahnya agar dapat melihat bangunan tinggi, mereka rindu dengan infrastruktur. Sekarang, apalah daya mereka hanya dapat melihat bangunan tinggi dan rindu akan ilalang hijau yang tinggi. Bisa dikatakan dilematis, sebenarnya. Disaat diapit oleh dua pilihan yang menurut kita memiliki kepentingan yang sama. Hari ini, paru-paru terasa sesak dengan udara yang dihirup. Bagaimana tidak, udara yang pada awalnya kasat oleh mata, sekarang sudah tak kasat lagi. Warnanya hitam pekat menari diatas ramainya aktifitas jalan raya. Dahulu gedung itu menjadi kebanggaan, sekarang telah berubah menjadi tangisaan, hinaan bahkan kemelaratan (sedih).

Tak lupa salam hangat untuk kalian para penonton setia, silahkan siapkan makanan ringan dan jangan berkedip. Sekarang kita berada didalam bioskop dunia. Have a nice watching !. Ini bukanlah bioskop biasa, disini tampilan yang ditampilkan adalah langsung, tapi kebenarannya tidak pasti. Jika di bioskop biasa, kita saksikan tayangan yang ditayangkan itu indah, di biskop nan luar biasa ini, kenyataannya tidak, sangat mengecewakan. Langsung dari tempat duduk kau saksikan di depan matamu banyaknya maling. Maling di tanah ini sudah melebihi kapasitas, yang lebih bagusnya lagi maling yang terlihat layaknya orang tak berpendidikan, nyatanya latar jenjang pendidikan mereka sangat tinggi. Apakah ilmu menjadikan seseorang biadab, ataukah beradab ?. Tayangan ini juga menceritakan tentang sisi lain. Kita klasifikasikan menjadi dua kubu, si miskin dan si kaya. Jika dibioskop biasa, kita disuguhkan dengan pemandangan saling berbagi. Di bioskop ini kita bisa menyaksikan langsung, dan nyatanya berbagi adalah kegiatan yang diperuntukkan bagi orang-orang yang sadar, seprerti itu. Mereka yang mungkin belum sadar masih saja santai disana, diatas baja berketinggian 100-150 meter, tinggi menjulang mencakar langit, juga mencakar tanah sekitarnya. Dibelakang gedung tinggi mengalir sungai indah, dulunya. Pokoknya bioskop ini penuh dengan pencitraan dan pertaruhan nama baik. Dilatar belakangi oleh uang kertas (miris).

You Might Also Like

0 komentar

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe