#2 (OMNIVORA)

Sunday, December 04, 2016


Suatu hari dimana semua orang sibuk dengann urusan masing-masing. Terlihat rombongan orang duduk termenung diatas trotoar jalan. Dibalik keheningan, seorang anak remaja menangis tersedu dipojokan sambil memegang foto. Mendekatlah seorang Ibu parubaya dan menanyakan kenapa gerangan menangis. Satu menit pertama, hanya gelengan kepala dan anggukan yang diperoleh oleh sang Ibu. Tanpa putus asa, sang ibu pun mulai mendekat dan duduk disampingnya.

“Mengapa kau menangis wahai anak muda, ada apa gerangan ?.” Kata Ibu.

 “Aku hanya ingin menangis bu. Aku hanya ingin menangisi umat manusia. Aku hanya ingin menangisi saudara-saudaraku yang sedang ditimpa bencana, pembunuhan, dan pembantaian.”

Sang Ibu mulai heran dengan jawaban remaja, keningnya terangkat menandakan kebingungannya. Dalam hatinya ia bertanya-tanya apa sebenarnya yang menimpa anak ini, apakah ia gila ?. Sang ibu pun masih belum percaya dan mencoba menghilangkan prasangka buruknya dan mengulang pertanyaannya.  Sangat sulit sekali di zaman edan ini menemukan anak muda seperti yang ditemui sang Ibu.

“Apakah saudaramu ada yang terbunuh wahai anak muda ?.”

Anak muda mengangguk, berarti benar, saudaranya ada yang terbunuh. Sang Ibu pun mulai merasa iba dan kasihan pada anak muda itu.

“Bu, bolehkah aku bertanya. Apakah betul manusia termasuk omnivora (pemakan segala) ?.” Kata pemuda.

Sang Ibu seketika tersenyum dan tertawa kecil. Pertanyaan itu semakin meyakinkan sang Ibu bahwa ia adalah orang gila. Bisa terlihat dari pertanyaan yang ditunjukkan padanya, sangat tidak nyambung, antara tangisan dan pelajaran biologi. Pertanyaan yang agak ambigu, tapi apa salahnya untuk dijawab.
“Iya, memangnya kenapa ?.” Spontan jawab sang Ibu dengan nada pelan.

Air matanya pun sedikit demi sedikit berkurang. Tangisannya terhenti, yang tersisa tinggal mata yang bengkak. Sepertinya tangisannya sudah berlangsung lama, bahkan sebelum sang Ibu mendatanginya. Anak muda itu lalu menatap sang Ibu dengan tatapan penuh kesedihan, terlihat dari matanya. Tapi tetap saja, sang Ibu masih kebingungan dengan pertanyaan anak muda itu, tak sabar menunggu penjelasan selanjutnya.

                “Pantas saja bu. Banyak dari manusia yang memakan manusia. Mengorbankan saudaranya sendiri untuk mengejar kepentingan pribadi. Tak hanya manusia yang dimakan, uang pun akhir-akhir ini menjadi makanan paling top, sepertinya uang adalah menu paling laris karena kelezatannya. Lalu uang pun dicampur dengan macam-macam menu lainnya seperti, pembunuhan dan pembantaian. Setelah selesai darah-darah itu pun mereka minum sambil tertawa penuh kesombongan. Memang tidak salah, bahwa manusia adalah sosok omnivora yang terkadang bisa menjadi ancaman paling berbahaya untuk makhluk hidup dan segala sesuatu ‘yang ada di bumi.” Setelah menjawab, sang pemuda gagu dan terlihat lebih rileks.”

Tak terasa hujan pun turun membasahi tanah. Para rombongan pun berpencar mencari tempat berteduh, begitu juga sang Ibu dan anak muda. Sepertinya hujan terlambat, tidak tepat waktu. Anak muda itu menyesal karena hujan tak bisa menutupi kesedihan dan air matanya. Sang Ibu pun tersenyum lebar pada anak muda itu dan dengan nada pelan memintan izin untuk pulang. Tanpa payung, ia menerobos hujan yang sangat deras. Sepertinya, ia juga ingin menangis di tengah hujan agar tak ada satupun yang mengetahuinya menangis. Terlihat dari kejauhan lambaian tangan sang Ibu kepada anak muda, kurang jelas karena tertutupi oleh rintik hujan. Kira-kira umurnya 60 tahun.


You Might Also Like

0 komentar

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe