#31 (KOPI JARAK)

Thursday, September 21, 2017


Aku, ingin lupakanmu, sejenak
Seluruhnya, termasuk kenangan kecil penuh makna, tapi, tak mudah
Tak semudah melupakan pahitnya kopi hitam
Dalam secangkir kecil penuh rindu


Panasnya mentari, teriknya disiang hari
Takkan bisa mengalahkan dirimu itu
Saat kau tersenyum, menyengat jiwa raga
Terbawa mimpi berhari-hari tanpa henti


Dinginnya malam seakan musnah, sirna
Ketika, terlintas khayalan wajahmu
Seketika, suasana hangat selimutiku
Dari semilir angin kerinduan yang mencekam


Mengapa harus berjarak, tak ada yang mau
Awalnya kupikir, bahwa jarak bukanlah halangan
Kita cuman berjarak, bukan berpisah
Lama kutelusuri, ternyata aku salah


Sudah semestinya ada selisih sepertinya
Sudah seharusnya ada yang pergi lebih dulu
Karena, jika tidak, takkan ada lagi jarak
Bukan apa-apa, hanya untuk menguji kekuatan doa


Jika ternyata inginku kuat, aku berjuang
Jika tidak, nihil, takkan ada yang dihasilkan
Mudah, pergi, tinggalkan saja dirinya
Kalau yakin, ia takkan kemana, rindu selalu tahu dermaga yang tepat


Lepaskan, lupakan, seruput kopi, lalu telan
Dengan itu kau tahu, perasaanmu tak semudah kopi hitam
Tanpa campuran, klasik, tapi penuh arti
Bagaimana, berhasilkah melupakan, berhasilkah buat jarak ?


Seleramu terlalu tinggi, ingat sobat
Jangan berlebihan dalam memilih rasa, juga menetapkan
Yang biasa-biasa saja lah, toh, dari situlah terlihat
Semakin simpel semakin mudah untuk dilupakan


Dirimu dan hujan tak pernah berbeda
Jarang, tapi sesekali kau datang dengan berjuta-juta rintik rindu
Jangan salah, aku sudah mampu untuk berjarak, hingga akhirnya aku lupa
Kau tahu, karena malam ini, adalah tentang kopi hitam juga cangkir rindu yang kosong
Tanpa gula, juga dirimu, saat ini, hidupku dan kopi masih tetap nikmat


Sampai jumpa dilain waktu
Dengan gelas baru, tanpa isi
Dengan sesendok gula pasir
Untuk maniskan hidup kita, kelak :)

You Might Also Like

1 komentar

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe