#41 (IMPROVISASI)

Thursday, November 02, 2017


Salah satu tanda bahwa Allah sayang kepada hambanya adalah dengan memberikannya cobaan. Semakin berat cobaan, semakin sayang Allah. Hal inilah yang terkadang membuat kita sering suudzon. Bagaimana tidak, bisa dibilang ibadah sudah sering, maksiat juga tidak, tapi tetap saja dilanda masalah. Dilain pihak ada seseorang yang jarang ibadah, maksiat jalan, tapi hidupnya biasa-biasa saja. Malah terlihat lebih woles dari si ahli ibadah tadi. Skenario kehidupan Allah terkadang sulit ditebak. Yang awalnya akan diluruskan jalannya, masuk pertengahan malah dibelokkan, dan sebaliknya. Coba diam dan telaah lagi, semua itu ada tujuannya. Masalah yang datang terus menerus adalah ujian. Apakah saat Allah berikan cobaan kita tetap beriman ?, mungkin seperti ini skenarionya. Kenikmatan yang datang terus menerus juga ujian. Apakah saat Allah limpahkan rezeki kita tetap beriman ?. Tanya hatimu, sobat !. 

Ya Allah, why always me ?
Because i love you :).

Suasana kota Ponorogo malam itu sejuk. Angin bertiup sepoi, mengenai rerumputan, bunyinya terdengar, halus menyentuh kuliat lalu terbang entah kemana. Bintang tidak terlalu ramai, mereka malu nampaknya. Terlalu banyak muda-mudi disana. Lampu jalan raya bersinar seperti biasa, kuning, menyinari sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. Trotoar jalan ramai, masyarakat lebih memilih menghabiskan malam dengan secangkir kopi daripada harus menonton kontes dangdut yang entah kapan berakhir. Bagaimana denganku ?. Aku mengamati satu demi satu. Mulai dari penjual kopi hingga penjual gorengan. Mulai dari laki-laki hingga perempuan. Seringkali kulirik wanita penjual kopi berpakaian minim. Kau tahu sedikit gambaran mereka, rambut berwarna coklat, bibirnya merah melebihi strawberry, dan tidak lupa ciri khas utama, penuh rayu dan godaan. Remaja lelaki asik saja duduk manis. Mata mereka telah dimanjakan olehnya. Kopinya tidak terlalu enak, sama saja, warna hitam dengan kuantitas ampas hampir setengah gelas kecil. Sama saja !. Lalu apa yang membedakan tempat itu dengan tempat lain ?. Jawabannya adalah penjual dan jualannya. Terkadang aku berpikir dan bingung. Apa yang sebenarnya ia jual, kopi atau harga diri ?. Apakah harga kopi lebih tinggi dari harga dirinya ?. Tanya saja sendiri, aku juga belum berani. 



Melihat situasi yang kurang kondusif, teman-temanku berputar balik, mencari tempat santai yang lebih baik. Tempat dengan penjual yang lebih ramah dan enak dipandang tanpa harus berpakaian minim kekurangan kain. Dalam hal ini, aku bukan apa-apa. Aku lebih suka menjadi pengikut setia saja. Mengikuti kehendak orang lain layaknya kucing menuruti tuannya. Sampailah kita, tempatnya benar-benar asik. Terletak diantara ladang jagung, agak menjorok kedalam. Tidak akan kau temukan pelayan berbaju minim, alhamdulillah, pakaian mereka manusiawi, kainnya pas. Mereka mulai bercerita dari A sampai Z. Karena malam itu aku sedang banyak pikiran, kuputuskan untuk lagi-lagi menjadi pendengar yang baik. Untuk kesekian kali, aku duduk termenung. Hanya sesekali mulutku bergerak mengucap kata. Lainnya, hanya senyum dan tertawa kecil saja. Hinnga waktu nongkrong usai, pikiran itu masih saja menari-nari di kepalaku. Apa ini ?, apa yang terjadi ?. Lagi-lagi, aku kembali memikirkan tentang kapabilitas keimananku. Kalau memang Allah memberiku ujian karena aku beriman, tidak mungkin. Imanku lebih banyak berkurang daripada bertambah. Kusimpulkan bahwa masalah itu disebabkan karena kurang nya keimananku. Tentu saja.

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan standar iman, dan beribadah saja kurang lebih cukup. Maka dari itu, akhir-akhir ini ibadah yang dulu sempat sirna, mulai kutingkatkan lagi. Tidak perlu kujelaskan macam-macamnya, takutnya akan menambah dosa saja. Takutnya riya', meskipun tidak semua ibadah harus disembunyikan juga. Ibadah adalah urusan antara hamba dan Tuhannya, bukan berarti saat fokus beribadah kita melupakan interaksi sosial. Itu salah. Hubungan dengan Allah jelas harus dijaga, begitupun hubungan dengan manusia, harus tetap terjalin. Mulai dari sekarang aku harus lebih berusaha, agar ujian yang datang adalah karena Allah sayang, bukan benci. 

You Might Also Like

0 komentar

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe