#42 (UNLIMITED SPIRIT)

Sunday, November 05, 2017



Kuawali tulisan ini dengan Alhamdulillah, segala puji hanya untuk Allah. Terima kasih yang sebesar-besarnya teruntuk sang Maha Tinggi, yang telah memberikan hambanya inspirasi juga imajinasi hingga terciptalah berbagai macam karya seni berupa tulisan maupun non tulisan. Manusia, merencanakan bukan memutuskan. Serajin dan sepintar apapun kita, jika Allah memutuskan menjadi bodoh, yah akan bodoh, dan begitupun sebaliknya. Segala sesuatu berdasakan keputusannya. Hal itu pula yang kurasakan, minimnya imajinasi juga inspirasi menulis dikarenakan kurang dekatnya hubungan dengan Allah, banyaknya maksiat dan sedikitnya amal baik. Sudah barang tentu. Kini, kucoba untuk lebih dekat lagi, mencoba merayu Sang Khaliq sembari mengikuti perintahnya. 


Kira-kira naskah itu sudah terpendam lama sekali. Empat bulan lamanya kutulis, lalu kutinggalkan kurang lebih dua bulan, total enam bulan sudah. Dalam waktu tenggang yang tak cepat itu, aku belum menulis lagi. Sungguh sia-sia, kan ?. Tapi, segalanya harus tetap disyukuri. Setelah sekian lama menunggu, barulah muncul ide untuk menerbitkannya. Ide penerbitan kutemukan saat mendengar salah seorang teman berkata "berkarya dulu, biarpun jelek setidaknya kita sudah berusaha". Sesaat setelah mendengar, aku terdiam, dia benar. Salah satu alasan mengapa tulisanku belum juga diterbitkan karena masih ada rasa takut. Aku masih saja ragu, apakah tulisanku bagus ?, apakah mereka menyukainya ?. Dua hal ini selalu saja menghantui, hingga saat ini. 

Kita harus paham satu hal, bahwa baik buruknya karya adalah suatu pencapaian terbesar bagi penulisnya. Setidaknya ada apresiasi dari masyarakat dan pembaca, meskipun tidak semua komentar harus positif. Bagaimana kita tahu rasanya sukses bila belum merasakan pahitnya kegagalan ?. Kawan, terutama diriku, Allah sang Maha Pencipta pun ada yang membenci, apalagi kita yang hanya sebatas ciptaan belaka, jelas akan lebih banyak. Pernah kubaca beberapa profil penulis, dan semuanya sama. Pada awalnya mereka menemui kesulitan, setelah dijalani, semua komentar negatif ditelan hingga kenyang, barulah karya mereka bisa terkenal dan tersohor.

Pada akhirnya harus kuakui bahwa tulisanku masih sangat jauh dari kata baik. Tapi, disatu sisi juga harus yakin, tidak semua orang membenci karyaku. Seringkali ku bagikan tulisan ke beberapa grup medsos, dan alhasil komentar positif yang diberikan. Tetap merendah, tanamkan prinsip padi dalam diri. Terus berkarya, biarkan ajal menjadi satu-satunya pemberhentian. Tetap sabar dan istqomah, karena Allah dan semesta akan selalu bersama para pejuang. Salam aksara, salam damai !. Kuakhiri dengan Alhamdulillah. Tabik !, sampai jumpa di tulisan selanjutnya. 

You Might Also Like

0 komentar

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe