#43 (PRIVASI)

Monday, November 06, 2017



Hai sobat !.

Pagi tadi, temanku mengirim pesan lewat sosial media. Kami saling bertukar pikiran, saling hina, dan banyak lagi, yang aku yakin kalian juga merasakannya saat saling berbalas pesan. Inilah dampak positif dari sosial media, kita semua bisa merasakannya. Mendekatkan yang jauh. Tak peduli seberapa jauh samudera memisahkan, hanya dengan seklai klik saja, rindu bisa tersampaikan. Sangat praktis kan ?!. Diawali dengan ucapan selamat pagi, kami saling berbalas pesan. Hingga tiba saatnya kami masuk pada fase percakapan agak serius. Dia, temanku itu mulai membahas tentang cinta. Sesuatu yang hingga saat ini belum juga terpikirkan olehku. Maybe. Dipaparkannya panjang lebar, temanku adalah seorang wanita. Saat ini ia sedang menaruh ketertarikan pada seorang lelaki di kampusnya. Wajar ?, tentu saja.

Kapan kita kemana lagi ?:)
Lama ia bercerita. Satu hal penting yang kutemukan. Lelaki yang ia sukai adalah sumber penyemangatnya. Setidaknya setelah melihat senyumnya, semangat menuntu ilmu akan lebih meningkat, meninggi lebih dari biasanya. Aku, masih saja mendengarkan, dengan terus memberi pertanyaan. Berbagai macam bentuknya. Sudah lama sekali kami berbalas pesan, dan kini tiba lah saatnya. Dimana aku terjebak oleh pertanyaan yang ia tanyakan. "Bagaimana denganmu ?". Kukatakan sejak awal, cinta adalah anugerah yang kuasa. Semua makhluk berhak dan pasti merasakannya. Memangnya aku ini apa, sampai-sampai tidak pernah merasakan hal yang katanya indah itu. Aku manusia normal, aku punyak hak akan itu.

Menurutku, ada beberapa hal dalam hidup yang memang hanya boleh diketahui oleh diri kita, bersifat privasi. Dan salah satunya adalah love. Aku tidak perlu menceritakan proses pandang pertama hingga timbul rasa suka disini. Itu adalah privasi hidup, biarkan aku dan Allah yang tahu. Kalau kau temukan banyak orang yang dengan enaknya bercerita tentang rasa sukanya pada teman-temannya, jangan heran. Berarti ia menganut prinsip hidup yang berbanding terbalik denganku. Cinta bukanlah sesuatu yang bersifat rahasia untuknya. Salah ?, tidak. Kita hidup dengan kaki juga otak kita sendiri. Tidak usahlah capek-capek mengurusi dan mengikuti prinsip hidup orang lain. Toh, masih banyak urusan yang belum terselesaikan. Kita hidup dengan prespektif kita masing-masing, yang pada akhirnya hidup ini akan berjalan menurut kehendak kita. 



Temanku itu bebas bercerita tentang cintanya, aku terima. Lumayan lah, bisa dijadikan bahan tulisan. Sebenarnya, tidak semua privasi harus selalu dirahasiakan. Hanya saja, harus selektif. Pilihlah telinga yang tepat untuk mendengarkan seluruh curhatanmu. Karena tidak semua apa yang mereka dengar akan sama dengan apa yang mereka ucap, camkan itu. Insya Allah aku tidak akan cerewet, masalah perasaan masuk dalam kategori sakral. Mungkin saja, temanku juga menganggap cinta adalah privasi, tapi setelah lama memilih, ia menemukan orang yang tepat untuk bercerita. Jujur, aku pernah bercerita pada salah seorang temanku, sebut saja namanya bunga :). Sebagai penutup, ingat sobat, cinta bisa memberi semangat juga sebaliknya. Cinta bisa memberimu harapan juga sebaliknya. Sesuatu yang belum pasti hanya akan menyebabkan penyesalan, sakit hati. So, terserah kau tanggapi apa perasaanmu, yang terpenting, berharaplah seperlunya agar kecewamu juga akan seperlunya.

Selamat beraktifitas. C u in the next article, c u next time. Jaga hatimu, jaga cintamu, jaga perasaanmu. Karena waktu adalah sebaik-baiknya pemberi jawaban. Jangan lupa klik tombol follow jika suka dengan tulisanku. Kalau tidak,  komentari, Silahkan beraspirasi beraspirasi. Wassalam !.


You Might Also Like

0 komentar

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe