Qona'ah
Tuesday, March 09, 2021Hai, apa kabar?
Teknologi, salah satu hasil paling tersohor yang terlahir dari buah pemikiran manusia, bisa dikatakan sebagai penguasa di setiap era hingga hari ini. Pergantian dari tenaga manusia ke mesin merupakan awal kejayaannya. Hingga kini tak ada yang luput dari campur tangannya. Tapi, sekali lagi, manusia yang tidak sempurna akan melahirkan sesuatu yang tidak sempurna pula. Tak ada gading yang tak retak, begitu pula teknologi yang bisa memudahkan manusia juga menyengsarakan. Salah satu produk teknologi yang bisa dikatakan paling besar pengaruhnya dalam hidup kita hari ini adalah telepon genggam. Khususnya milenial, bisa dengan mudah tersenyum girang dan menangis sedih hanya karenanya. Baik dan buruknya mari kita pilah pilih.
Sembari mengisi kekosongan waktu biasanya kita bersantai dengan telepon genggam. Melihat postingan orang-orang tentang kehidupan yang semuanya ingin terlihat indah tentunya. Bukankah kita semua begitu? Ingin terlihat tersenyum meskipun sedang sedih? Ingin terlihat bahagia meskipun sedang tidak baik-baik saja? Fix, sosial media bukanlah tolak ukur. Adapun benar, cukup dipercaya secukupnya bukan seutuhnya. Dengan melihat foto dan video orang lain tentang kesenangan dan kemewahan terkadang membuat kita iri, cemas, tidak percaya diri; intinya insecure dengan orang lain. Pernah, kan? Wajarlah, siapa juga yang tidak ingin hidup serba berkecukupan, mau apapun siap tersedia. Seisi lemari dipenuhi dengan barang branded yang jika dijual hasilnya bisa untuk mendirikan sekolah untuk anak-anak yang kurang mampu. Sepertinya dan seharusnya begitu sih! Bukankah memasukkan rasa senang dalam hati seseorang itu pahala?
Minimalisme, sebuah istilah yang akhir-akhir ini sedang trend di tengah masyarakat kita. Perilaku seseorang untuk hidup sesederhana mungkin. Prinsipnya less but worth, fungsi bukan jumlah. Orang-orang yang sadar akan hal ini berbondong-bondong menyortir barang yang kiranya tidak digunakan untuk dialokasikan ke yang lebih membutuhkan. Ingat! Kita tidak serta merta menjadi seorang yang minimalis hanya karena menggunakan baju polos, celana semi levis juga sepatu berbahan canvas, ditambah lagi secangkir kopi di sore hari. Bukan, istilah keren buat mereka adalah 'Anak Indie', para pengagum senja. Apaan sih, wkwkwkw. Yang mana harga baju, sepatu dan celana bila dihitung-hitung sama dengan sebuah telepon genggam midrange, spesifikasi menengah kebawah. Bukan! Ia adalah prinsip, dalam bahasa lain Qona'ah. Merasa puas dengan apa yang dimiliki dan tidak membandingkan diri dengan orang lain. Hidup Sederhana tanpa embel-embel gengsi dan boros. Mungkin Qona'ah-lah penyelamat untuk kita yang sedang tenggelam dalam samudera insecure. Untuk kita yang sampai hari ini masih terus iri dengan dunia orang lain. Mau hidup sampai kapan sih? Come on, itu hanya dunia kawan!
Sudah se-minimalis apa hidupmu? Benarkah segala sesuatu yang kita miliki adalah kebutuhan? Atau gengsi semata? Jangan lupa besyukur hari ini!
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُم
1 komentar
Memang susah kalau harus terus-menerus mengikuti gaya hidup media sosial. Buang-buang waktu dan biaya saja. Lebih baik qona'ah dengan apa yang ada dalam diri sendiri
ReplyDelete